Rektor UGM Bentuk Tim Investigasi Program Doktor Rp 600 Jt
Selasa, 22 Agu 2006 21:25 WIB
Yogyakarta - Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) merasa gerah adanya pungutan dana sebesar Rp 600 juta bagi mahasiswa program doktor S3 eksekutif. Sebab, UGM tidak pernah menarik uang kuliah sebesar itu, tapi hanya berkisar Rp 6 juta per semester."Program pendidikan doktoral antarbidang untuk S3 tidak ada yang hingga Rp 600 juta, kami akan usut dan selidiki siapa yang bermain," kata Rektor UGM Prof Dr Sofian Effendi kepada wartawan di Kantor Pusat UGM di Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (22/8/2006).Sofian mengatakan, pihaknya akan membentuk tim investigasi untuk membongkar sindikat penyelenggaraan kegiatan pendidikan program doktoral antar-bidang tersebut. Tugas utama itu itu adalah mengusut dan menyelidiki airan dana sebesar Rp 600 juta yang dibayarkan mahasiswa serta menyelidiki kualitas pendidikan S3 antar-bidang yang telah diselenggarakan."Mudah-mudahan dalam dua minggu ini, tim itu sudah terbentuk dan langsung bekerja," katanya.Menurut dia, tim investigasi yang akan diketuai oleh wakil Rektor Bidang Pendidikan. Tim bertugas untuk menanyai terhadap 13 orang dosen senior UGM yang diduga terlibat dalam kegiatan tersebut."Aliran dana Rp 600 juta per orang itu juga akan kami usut kemana larinya. Sebab SPP untuk mahasiswa S3 di UGM hanya sebesar Rp 6 juta per semester dan uang pendaftaran hanya Rp 300-an ribu," janjinya.Nama-nama dosen UGM yang diduga terlibat dalam masalah ini juga akan diinvestigasi. Jika terbukti terlibat, mereka akan dikenai sanksi tegas.Demikian pula aliran dana atau uang yang telah dibayarkan juga akan diusut."Jika terbukti dana itu tidak masuk ke rekening UGM tapi malah ke rekening pribadi, berarti telah terjadi penggelapan keuangan negara. Itu jelas kriminal," jelasnya.Kasus program S3 eksekutif bagi orang-orang yang sibuk itu terbongkar setelah adanya laporan dari sejumlah orang mengenai sindikat yang mengedarkan proposal ke sejumlah kalangan eksekutif untuk menjadi mahasiswa S3 antarbidang di UGM.Namun dalam proposal itu, tidak ada kop atau logo UGM-nya. Para mahasiswa S3 antar-bidang itu mengikuti perkuliahan di UGM harus membayar Rp 600 juta mulai pendaftaran hingga bisa mengikuti ujian promosi doktor."Kami terpaksa menghentikan sementara program ini meski sudah memasuki tahun ketiga. Tim kami harap secepatnya melaporkan hasil investigasinya dan kami yakin ini melibatkan sindikat sejumlah orang," ungkap Sofian.
(ahm/)











































