Mulyadi: Allah Lebih Sayang Sama Syafitri

Mulyadi: Allah Lebih Sayang Sama Syafitri

- detikNews
Selasa, 22 Agu 2006 16:40 WIB
Jakarta - Mulyadi, bapak Syafitri - bayi berkepala dua - menerima kematian anaknya dengan ikhlas. Baginya, ini keputusan terbaik dari Allah untuk buah hatinya."Saya pasrah, saya ridho, saya ikhlas kalau ini memang jalan terbaik buat Syafitri. Berarti Allah lebih sayang dia daripada saya," kata Mulyadi di rumahnya, Jl. G Rt 03/03 No.25, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (22/8/2006).Menurut Mulyadi, sebagai hamba Allah, dirinya hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan ini. Dia yakin, di balik peristiwa ini ada hikmah yang berharga bagi dirinya dan keluarga."Semua manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian. Nggak tua, kecil, dewasa atau muda semua akan mengalami itu. Saya hanya bisa pasrah, itu urusan Allah," tutur Mulyadi.Menurut Mulyadi, perasaannya sejak pagi tadi memang sudah tidak enak. Selepas mengurus perpanjangan surat keterangan tidak mampu (SKTM), dirinya langsung ke RS Pelni.Namun di RS itu dia tidak langsung melihat kondisi sang anak. Dirinya terlebih dahulu menemui pihak Humas RS Pelni untuk mengurus berbagai keperluan administrasi."Baru kemudian Bu Diyah (Humas RS Pelni) mengingatkan saya, apa ngga mau nengok Syafitri? Astagfirullah, saya hampir lupa! Saya kemudian menengok Syafitri," ungkap Mulyadi.Saat ditengok, kondisi Syafitri tampak lemah. Dokter dan tim medis lainnya tampak sibuk memasang berbagai peralatan di tubuh mungil anaknya. Melihat kondisi anaknya yang sedemikian rupa, Mulyadi pun pulang untuk mengabari pihak keluarga. Mendapat kabar ini istrinya, Nuryati (30) langsung shock."Sekitar jam 12.00 WIB, saya kembali lagi ke RS bersama bapak saya (kakek Syafitri). Saya lihat, kondisinya semakin lemah. Sampai akhirnya dia kemudian meninggal," tutur Mulyadi dengan mata berkaca-kaca.Kondisi Nuryati memang sangat berbeda dengan Mulyadi. Wanita ini masih tidak bisa menerima kenyataan pahit yang dialaminya. Jiwanya masih terguncang sehingga beberapa kali jatuh pingsan. Rumah Mulyadi sampai saat ini masih dibanjiri ratusan pelayat. Mereka terdiri dari warga setempat, teman sekantor Mulyadi, pegawai kelurahan serta puluhan wartawan dari berbagai media massa. (djo/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads