Indonesia Tidak Boleh Menyerah dengan Tekanan Israel

Indonesia Tidak Boleh Menyerah dengan Tekanan Israel

- detikNews
Senin, 21 Agu 2006 15:22 WIB
Jakarta - Israel keberatan TNI dan pasukan Malaysia dilibatkan dalam pasukan perdamaian PBB. Israel takut TNI dan pasukan Diraja Malaysia membela Hizbullah. Namun Indonesia diminta maju terus dan tidak menyerah dengan tekanan Israel tersebut.Imbauan itu disampaikan anggota Komisi I dari FPAN Djoko Susilo kepada detikcom di sela acara Silaturahmi Nasional Kader Eksekutif dan Legislatif Partai Amanat Nasional (PAN) di Hotel Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (21/8/2006).Israel keberatan karena kedua negara tersebut tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara zionis tersebut.Namun, menurut Djoko, sikap Indonesia tidak mengakui Israel sebagai sebuah negara sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Itu merupakan bentuk ketegasan politik dan sesuai dengan konstitusi."Kita tidak akan pernah mengakui Israel selama masih menjajah Palestina, karena bertentangan dengan konstitusi," tegas Djoko.Karena itu, tambah Djoko, jika PBB pada akhirnya memutuskan mendesak pasukan internasional melucutkan senjata Hizbullah, lebih baik pemerintah membatalkan rencananya mengirim personel TNI."Kita menentang, itu bukan bagian dari tugas kita untuk melucuti Hizbullah karena bukan bagian dari resolusi," tegas dia.Tugas pasukan internasional sesuai resolusi, kata dia, hanya menjaga agar tidak terjadi konflik lanjutan antara negara yang tengah berkonflik."Kalau Isreal mendesak PBB agar meminta pasukan internasional melucuti senjata Hizbullah, itu hanya syarat tambahan dari Israel. Dalam resolusi tidak tertuang kewajiban pasukan internasional untuk melucuti senjata Hizbullah," beber Djoko.Dia juga mengatakan, apabila pemerintah tetap nmengirimkan pasukan untuk melucuti Hizbullah, itu akan menyakiti hati umat Islam . "Kita tahu bahwa rakyat RI mendukung penuh Hizbullah dan Libanon," ujarnya.Upaya melucutkan senjata Hizbullah, imbuh dia, terlihat dari pengiriman tentara Prancis yang awalnya diharapkan 5.000 personel tapi hanya 200 personel saja. "Saya kira sengaja dunia memang diarahkan ke arah sana," tuturnya. (umi/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait