Asap di Riau Pedihkan Mata
Senin, 21 Agu 2006 15:17 WIB
Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan di Riau mengakibatkan semburan asap kian parah. Pemerintah daerah dianggap tidak becus menindak para pelaku. Asap pun mulai memedihkan mata. Dua hari terakhir, semburan asap di Pekanbaru kian parah. Mulai pagi hingga sore, sinar Matahari tidak bisa menembus tebalnya asap. Asap yang terus menerus menyelimuti wilayah di Riau, kini mulai berdampak buruk buat warga. Masyarakat mulai merasakan pedihnya mata, terkena asap itu. "Setiap saya keluar rumah dengan sepeda motor, kabut asap sangat memedihkan mata. Apalagi kalau membawa kendaraan pada malam hari, pedihnya kian bertambah," kata Juanda, seorang warga Pandau, Pekanbaru, kepada detikcom, Senin (21/8/2006).Walau kota Pekanbaru kini disesaki asap, namun aktivitas warga masih berjalan normal. Mereka menolak menggunakan masker, karena penggunaan masker malah memuat sesak nafas. "Masalah asap ini sudah biasa kok. Pakai masker malah rasanya tambah sesak nafas kita," kata Pangibulan, salah seorang warga lainnya. Walau sebagian warga menganggap asap hal yang biasa, namun sebagian di antaranya khawatir asap ini akan menimbulkan penyakit. Misalnya, Ny Elis Masyitoh warga Panam, Pekanbaru. Menurut ibu satu orang anak ini, karena kabut asap kian parah, dirinya banyak berdiam di rumah. "Sudah sepekan ini, saya enggan ke luar rumah. Saya takut anak saya yang masih balita nanti malah kena penyakit. Anehnya pemerintah kita ini kok tidak pernah berhasil mengatasi kebakaran hutan itu ya," kata Elis.Melihat kondisi asap yang kian parah, sebagian warga berharap selain pemerintah bisa segera mengatasi kebakaran hutan, juga mengharapkan adanya kebijakan pemerintah daerah untuk segera meliburkan anak-anak sekolah TK dan SD. "Mestinya pemerintah jangan menunggu ada korban jiwa dalam masalah asap ini. Sebaiknya demi kesehatan anak-anak, tidak ada salahnya untuk anak TK dan SD diliburkan saja. Mereka itu paling rentan dengan penyakit. Asap di tempat kita ini sudah parah sekali," harap Syafriadi, seorang warga.
(asy/)











































