Data Kemiskinan Tidak Up to Date Biar Presiden Senang
Senin, 21 Agu 2006 08:10 WIB
Jakarta - Penulis pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai berbuat kesalahan fatal. Data kemiskinan yang dibacakan presiden ternyata tidak up to date. Diindikasikan hal ini hanya upaya untuk membuat presiden senang."Sebetulnya presiden tidak tahu hanya terima jadi. Saya khawatir ini berlanjut pada proses asal bapak senang (ABS), karena para menteri tidak mau dinilai gagal," kata ekonom senior INDEF Imam Sugema, saat berbincang dengan detikcom di Jakarta, Senin (21/8/2006).Menurut Imam data itu sejatinya memang benar, tetapi kesalahannya tidak digunakan yang terbaru, padahal data terbaru soal kemiskinan sudah dilansir BPS (Badan Pusat Statistik)."Ini maksudnya apa. Pidato kenegaraan itu sakral, bila disajikan data semaunya bisa gawat negara ini," cetus Imam.Imam menduga data lama ini disajikan tim penyusun kepada presiden, karena mereka takut jika presiden mengetahui angka kemiskinan ternyata mengalami kenaikan. Namun memang, bila data itu hanya sekedar pidato tidak akan berpengaruh pada masyarakat."Tapi kalau data itu digunakan untuk mengambil keputusan seperti untuk Raskin (beras miskin), BLT (bantuan langsung tunai) bersyarat atau beasiswa, itu bisa mematikan," tuturnya.Penurunan angka kemiskinan yang dibeberkan SBY di depan DPR pada 16 Agustus yakni dari 23,4 persen pada 1999 menjadi 16 persen pada tahun 2005. Sementara Data dari Tim Indonesia Bangkit, angka kemiskinan naik. Yakni dari 16 persen per Februari 2005 menjadi 18,7 persen per Juli 2005 sampai 22 persen per Maret 2006."Kalau dihitung-hitung bedanya sekitar 3,5 juta orang. Bagaimana nanti itu," tandas Imam.
(ndr/)











































