Amien: Tidak Ada Menteri yang Salah, Tapi Presidennya

Reshuffle Kabinet

Amien: Tidak Ada Menteri yang Salah, Tapi Presidennya

- detikNews
Minggu, 20 Agu 2006 23:38 WIB
Jakarta - Perlu atau tidaknya reshuffle dalam tubuh Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) bergantung dari kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri. Karena apabila ingin mendapat dukungan rakyat, SBY seharusnya memiliki program yang nyata."Sesungguhnya tidak ada prajurit yang salah, tapi komandannya yang harus ambil tanggung jawab itu. Tidak ada menteri yang salah, tapi presidennya," kata mantan Ketua MPR Amien Rais, usai menghadiri acara Silaturahim Nasional Kader Eksekutif dan Legislatif PAN di Hotel Sahid, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (20/8/2006).Hal itu dikatakan Amien mengomentari wacana isu reshuffle dalam kabinet SBY, terkait banyaknya komentar mengenai menteri yang tidak dapat bekerja maksimal. Menurut Amien posisi presiden adalah seorang yang memimpin atau mendahului dan memanage anak buahnya. "Presiden itu memimpin, mendahului dan mengambil langkah. Kemudian para menteri mengikutinya," tutur Amien yang juga pendiri PAN ini.Ditegaskan Amien, bila presiden selalu gamang dalam bersikap dan lebih melakukan rapat-rapat dari pada mengambil tindakan konkrit, maka lama kelamaan menteri-menterinya bisa jenuh."Jadi maunya apa ini. Oleh karena saya masih punya harapan, karena dahulu sebagian kader PAN mencoba mencoblos SBY, mudah-mudahan dia mau banting stir," ujar Amien.Amien menjelaskan, yang dimaksud banting stir itu SBY harus membuat semua program pembangunan nasional atau tindakan apapun untuk keuntungan atau membela kepentingan rakyat kecil. Bila hal itu dilakukan maka SBY akan mendapatkan dukungan lebih besar dari rakyatnya.Sementara Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir menyatakan bahwa SBY sudah menyatakan komitmennya untuk melaksanakan evaluasi terhadap kinerja menteri-menteri di bawahnya. Soetrisno mencontohkan jika dahulu ada yang tidak bagus kinerjanya kemudian akan diberikan kesempatan lalu bisa menunjukan peningkatan kinerja."Mungkin sekarang kalau sudah diberikan kesempatan tidak baik hal itu bisa saja terjadi," cetus Soetrisno.Namun menurutnya yang seharusnya di reshuffle adalah jabatan-jabatan yang bisa menggerakan sektor riil, karena di bidang inilah perlu figur-figur yang bisa mengambil risiko dan tidak berlindung di balik presiden. (ndr/)


Berita Terkait