"Mahfud MD mengatakan bahwa aparat sudah mengepung kelompok OPM dan akan menyerbu, tapi gagal karena di sana ada seorang sandera dari Selandia Baru. Negara itu ingin selamatkan warganya dan mereka tidak mau ini diselesaikan dengan kekerasan, karena bisa jadi urusan internasional," ujar Teddy dalam keterangan tertulis, Rabu (22/2/2023).
Teddy menilai dari pernyataan Menko Polhukam Mahfud Md, aparat Indonesia sebenarnya sudah sangat bisa memberantas kelompok OPM dengan mudah. Karena itu, ia meminta aparat untuk meneruskan operasi OPM hingga tuntas setelah sandera berhasil diselamatkan.
"Jika nanti WNA tersebut sudah selamat, maka segera bumi hangus kelompok OPM. Tidak ada alasan lagi, bahwa OPM sering berbaur dengan warga, sehingga sulit diberantas," imbuhnya.
Teddy menyampaikan pemerintah tidak perlu takut dengan HAM internasional maupun lokal. Menurutnya, kelompok perlindungan dengan koridor HAM tidak perlu memayungi OPM yang tidak menghormati hak asasi manusia.
"Bagaimana bisa kelompok teroris yang tidak menghormati HAM, menginjak-nginjak HAM, membunuh warga negara Indonesia, lalu mereka dilindungi dengan HAM dan kita sebagai negara merdeka yang dirugikan malah dibelenggu dengan HAM," ucapnya.
"Sudah cukup, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak membumihanguskan OPM," pungkas pria Teddy.
Sebagaimana diketahui, pesawat PK-BVY milik maskapai Susi Air terbakar di Lapangan Terbang Paro, Distrik Paro, Nduga, Papua Tengah pada Selasa (7/2) lalu. Terungkap pesawat tersebut dibakar oleh OPM dan warga asal Selandia Baru sekaligus pilot Philips Max Mehtrens disandera oleh kelompok yang dipimpin Egianus Kogoya.
Hingga saat ini, aparat TNI dan Polri masih mengupayakan evakuasi Philips.
Simak Video 'Polisi Klaim Kuasai Nduga Pegunungan, Dipastikan Sudah Aman':
(ega/ega)











































