Mantan Anggota BKR: Arti Merdeka, Apa ya...?
Kamis, 17 Agu 2006 17:43 WIB
Jakarta - Setiap hari, lelaki tua itu menarik gerobak. Ditambah sebuah sapu usang, dia menyusuri jalanan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.Hari ini, 17 Agustus 2006 merupakan Hari Kemerdekaan ke-61 RI. Sama seperti hari-hari lainnya, dia tetap mendorong gerobak dan menyapu sampah di jalanan.Muhasim (70), nama tukang sapu itu. Senyuman seolah tak pernah lepas dari bibirnya ketika diajak bincang-bincang tentang Hari Kemerdekaan RI oleh detikcom dan Kompas Cyber Media di Jalan Mendut, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/8/2006)."Arti kemerdekaan bagi saya, apa yah...?" ucapnya menerawang sambil mengalihkan pandangannya ke langit.Pria kelahiran Jakarta ini mengatakan, situasi saat ini sangat jauh berbeda dengan keadaan di masa kecil dan remajanya dulu yang tumbuh di era perjuangan kemerdekaan ini. Menurutnya, di eranya semua orang berjuang tanpa pamrih.Jadi apa itu makna kemerdekaan? "Yah... Merdeka bagi saya kalau rakyat semua sejahtera, tidak susah seperti saat ini," ujar lelaki yang mengaku mantan anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) di masa perjuangan itu.Jadi belum merdeka? "Ya begitulah... Tapi saya sih mensyukuri saja keadaan saat ini," cetusnya pasrah.Muhasim mengaku setiap memperingati hari kemerdekaan selalu teringat masa lalu. Ketika berumur 15 tahun dirinya bergabung dengan BKR. Saat itu Tentara Nasional Indonesia (TNI) belum terbentuk. Juga saat bertugas pengamanan di Jakarta sempat mendorong mobil Presiden pertama RI Soekarno.Saat itu, Muhasim muda mendapatkan tugas memata-matai gerak-gerik tentara Belanda dan sekutunya. Tugasnya hanya keluar masuk berbagai tangsi (markas) Tentara musuh untuk mencuri peluru dan senjata api. Tugas ini menurutnya tidak mudah dan butuh kesabaran.Muhasim juga mengaku beberapa kali pernah ikut kontak senjata dengan tentara Belanda di kawasan Senen, Gunung Sahari. Bahkan nyawanya nyaris melayang dalam pertempuran di Cikampek, Jawa Barat. Ia juga sempat ditahan beberapa kali oleh pasukan sekutu."Perang saat itu tidak kayak di film-film perjuangan kita yang menang mulu," ujarnya sambil tertawa mengenang masa lalunya.Setelah proklamasi kemerdekaan, dirinya berniat bergabung dengan TNI yang dibentuk Soekarno di Yogyakarta. Namun niatan bersama beberapa rekannya di BKR tidak pernah kesampaian. Sebab rombongannya selalu dicegat tentara Belanda yang mencium rencana sejumlah laskar akan menggabungkan diri dalam satu wadah."Saya dan teman-teman selalu sembunyi-sembunyi, tapi tentara Belanda selalu mencegat kita di Karawang. Kita selalu dikejar-kejar, ya tidak pernah berhasil masuk ke wilayah Jawa Tengah," ujarnya.Alhasil jadi anggota TNI tidak kesampaian, pasukannya malah tercerai-berai. Nasib Muhasim pun terkatung-katung tak tentu arah. Apalagi kemudian perang usai.Lama Muhasim mencari nafkah yang lebih layak sekadar bertahan hidup. Sampai akhirnya dia menjadi satpam di Kedutaan Besar Hongaria. Profesi ini dijalaninya selama 20 tahun.Namun tahun 1965, Kedubes Hongaria ditutup karena kasus Gestapu. Nasib Muhasim kembali luntang-lantung. Bekerja serabutan dilakoninya di sejumlah tempat.Baru tahun 1990-an, lelaki yang tinggal bersama istrinya Rayana (45) di sebuah kontrakan seharga Rp 250.000 di bilangan Matraman ini, bekerja sebagai tukang sampah.Sebagai petugas kebersihan, Muhasim hanya mendapatkan gaji Rp 18 ribu per hari. Beruntung tubuh rentanya jarang sakit. Muhasim memang tampak segar untuk orang seusianya."Sabar dan ikhlas bekerja," ujar Muhasim membocorkan resep bugarnya. Sesaat kemudian dia mengambil sapu dan pengki untuk melanjutkan pekerjaannya menyapu jalanan.Semoga cepat merdeka Pak Muhasim!
(djo/)











































