PDIP: Pidato SBY Hanya Retorika
Kamis, 17 Agu 2006 11:55 WIB
Jakarta - Presiden SBY pada Rabu 16 Agustus telah menyampaikan pidato kenegaraannya di DPR. Namun pidato tersebut dinilai sebatas wacana dan retorika. Kontradiktif pun ditemukan dalam pemaparan SBY.Hal ini disampaikan Sekjen PDIP Pramono Anung di Kantor DPP PDIP, Jl Lenteng Agung Raya, Jakarta, Kamis (17/8/2006)."Jumlah pengangguran dikatakan menurun, padahal lapangan kerja sulit," cetus Pram, panggilan akrab Pramono.Menurut Pram, pembagian raskin dan bantuan langsung tunai (BLT) yang mengalami kenaikan merupakan suatu bukti tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah.Selain itu, lanjut Pram, ada korelasi positif antara penerima BLT dengan jumlah pengangguran."Kita tetap meng-endorse pemerintah untuk menjalankan sungguh-sungguh apa yang disampaikan dan dijanjikan," imbuh Pram.Pram pun berharap defisit 1,2 persen dari APBN tidak ditutupi dengan cara berutang, sebab utang tidak akan menguntungkan dan menyelesaikan masalah.Menanggapi jadwal pertemuan SBY dengan Megawati di Bengkulu pada 24 Agustus, Pram menegaskan, PDIP belum mendapat undangan tersebut."Ini komoditas dan wacana politik," cetusnya.Menurut Pram, rencananya Mega bertolak ke Singapura dan Malaysia pada 23 Agustus untuk menghadiri undangan dari dua kepala negara, dan akan tiba di tanah air pada 26 Agustus."Kapasitas Bu Mega hanya sebagai tokoh masyarakat biasa, bukan sebagai pimpinan partai," tandas Pram.Sebelumnya Pram menyebut Mega akan terbang ke Eropa Timur untuk memenuhi undangan suatu negara. Sehingga Mega dipastikan tidak menghadiri undangan Pemprov Bengkulu untuk peletakan batu pertama pembangunan proyek Persada Bung Karno dan Persada Fatmawati.Terkait:* Pilih ke Eropa Timur, Mega Dipastikan Tidak Hadir di Bengkulu
(mly/)











































