Aria Bima, Anggota FPDIP yang Siap Interupsi SBY
Selasa, 15 Agu 2006 15:36 WIB
Solo - Ketua DPR menyarankan seluruh anggotanya tidak melakukan interupsi di saat Presiden membacakan pidato kenegaraan 16 Agustus 2006. Namun, PDIP bersikeras tidak ada salahnya interupsi dilakukan. Bahkan anggota F-PDIP, Aria Bima, bertekad akan tetap menginterupsi jika isi pidato tidak menjelaskan berbagai keputusan kontroversial pemerintah. Hal tersebut disampaikan Bima kepada wartawan seusai peresmian 'Posko Aspirasi Rakyat' yang didirikannya di Jalan Supomo No 7, Solo, Selasa (15/8/2006) siang. Menurut dia, Presiden harus mempertanggungjawabkan berbagai hal selama tahun 2006 ini. "Di antaranya pidato kenegaraan itu harus secara detil dan gamblang menjelaskan mengapa tahun ini dilakukan impor besar. Padahal dalam nota keuangan tahun 2005 disampaikan dengan tegas bahwa Indonesia mengalami surplus beras sehingga tidak akan melakukan impor beras di tahun 2006," kata Bima. Hal lain yang juga harus djelaskan secara gamblang, lanjut Bima, adalah dalam hal anggaran keuangan. Semula telah disetujui termasuk oleh DPR bahwa anggaran belanja publik harus jauh lebih besar dari anggaran belanja untuk aparatur. Namun pada kenyataan, tahun ini anggaraan untuk gaji aparat masih jauh lebih besar dibanding alokasi dana yang ditujukan untuk kebutuhan publik. "Ini belum menyangkut berbagai kebijakan pemerintah yang lainnya. Bagi saya dua persoalan itu saja dulu yang akan saya cermati. Jika untuk dua hal itu, presiden tidak memberikan penjelasan yang mamadai maka saya tetap akan melakukan interupsi," kata dia. "Terserah nantinya pimpinan DPR berkenan atau tidak atas sikap saya itu. Bagi kami di PDIP interupsi itu bukan merupakan kebutuhan melainkan berjalan secara proporsional saja yaitu jika kondisinya, dalam hal ini materi pidatonya, mengharuskan bagi kami untuk melakukan interupsi," lanjut dia. Tindakan Aria Bima melakukan interupsi pernah mendapat sorotan luas. Dialah orang yang pertamakali berlari ke meja pimpinan DPR saat digelar paripurna kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Ulah Bima itu lalu diikuti teman-temannya satu fraksi yang kemudian dihadapi sejumlah anggota fraksi lain yang menentang interupsi sehingga terjadi baku hantam di gedung parlemen.
(asy/)











































