Perayaan 17-an di Palembang, OT Vs Panjat Pinang

Perayaan 17-an di Palembang, OT Vs Panjat Pinang

- detikNews
Minggu, 13 Agu 2006 01:35 WIB
Palembang - Di beberapa wilayah di Indonesia, tradisi panjat pinang masih berjaya. Tapi hal ini justru berbeda dengan kondisi yang terjadi di Palembang, Sumatera Selatan. Di daerah ini panjat pinang telah disaingi acara musik organ tunggal (OT).Padahal dahulu, tahun 2000-an ke bawah, peringatan 17-an tidak akan meriah apabila panitia pelaksana tidak mampu menggelar acara panjat pinang. Kini, standarnya berganti yakni dengan menggelar OT."Kalau tidak ada OT, ya, tidak meriah," kata warga Kuto Batu Ucin, Palembang, saat ditemui detikcom, di rumahnya, Sabtu (12/8/2006). "Ini sudah jadi acara rutin selama 3 tahun terakhir," tambahnya sambil tersenyum.Bahkan menurut Ucin, pada 2004, warga di daerahnya tidak keberatan jika panjat pinang ditiadakan dan diganti dengan OT.Ucin mengenang, peringatan 17-an yang paling meriah yakni pada 2003. Saat itu, banyak partai politik yang mencari simpatis masyarakat menjelang Pemilu. "Banyak nian parpol menyumbangkan dana buat peringatan 17-an. Sekarang ini sulit nian mencari sumbangan. Mungkin sekarang tidak ada panjat pinang," tutur Ucin.Alasannya dana panjat pinang terasa lebih mahal dibandingkan OT. "Kalau panjat pinang uang yang dikeluarkan Rp 2 juta, kalau OT cukup Rp 1,5 juta," jelasnya.Pernyataan serupa diakui Eddy, panitia pelaksana di Sriraya II, Sentosa, Palembang. "Kami terpaksa bergabung dengan RT lain buat menggelar OT. Uang sumbangan yang kami kumpulkan tidak cukup," imbuh Eddy.OT Rambah Suku Anak DalamDahsyatnya pengaruh OT merambah hingga masuk ke desa yang warganya sebagian besar suku anak dalam. Misalnya Desa Pagardesa, Kecamatan Banyulincir, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.Di desa ini terdapat sebuah cafe yang khususnya menggelar OT. "Para pengunjungnya adalah pekerja perusahaan penebangan kayu atau penyadap karet," kata Sri (49), warga di desa tersebut.Sri menuturkan, di cafe itu selain terdengar house music, para pengunjungnya pun melakukan mabuk-mabukan. "Pernah juga terjadi perkelahian di cafe itu," ujarnya.Sri, menceritakan, pengunjung cafe tersebut bukan hanya para pendatang yang menjadi pekerja penebangan kayu dan penyadap karet, tapi juga warga setempat, Suku Anak Dalam. "Karena itu saya sangat khawatir," tambahnya.Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Palembang, jika setiap kali digelar OT yang memainkan house music, para penyanyi dan penikmatnya selalu memakai narkoba yakni menelan pil ekstasi dan meminum-minuman keras.Dapat dikatakan OT menjadi ajang pertemuan para penikmat narkoba. Sebab setiap kali digelar OT ada komunitas yang selalu hadir. Mereka ini umumnya pengkonsumsi narkoba.Bagaimana aparat kepolisian? Yang jelas polisi di Palembang akan memberikan izin OT hingga pukul 24.00. Mereka pun akan berjaga-jaga selama pertunjukan itu berlangsung.Kegandrungan masyarakat Palembang terhadap OT, tak ayal menyebabkan bertaburannya kelompok OT. Mereka dulunya adalah kelompok musik dangdut atau dikenal dengan nama OM (Orkes Melayu). Daerah yang paling banyak terdapat kelompok OT adalah Plaju, Kertapati, Bukitkecil dan Tanggabuntung. (ndr/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads