698 Titik Api ditemukan, Kebakaran Lahan Ancam Sumsel
Sabtu, 12 Agu 2006 21:24 WIB
Palembang - Kebakaran lahan mulai mengancam wilayah Sumatra Selatan (Sumsel). Hal ini menyusul jumlah titik api yang meningkat tajam sejak awal Agustus 2006. Jumlah titik api (hot spot) di wilayah Sumsel yang terpantau satelit Tera Modis Web Fire Mapper University of Maryland, Amerika Serikat hingga 10 Agustus 2006 yang dihimpun South Sumatra Fire Forest Management Project (SSFFMP) di Palembang, terpantau sebanyak 698 titik. "Jumlah titik api di Sumsel mengalami peningkatan yang signifikan. Jika pada 9 Agustus yang terpantau 19 titik api, pada 10 Agustus jumlahnya menjadi 223 titik api", kata staf GIS atau Remote Sensing SSFFMP Solihin, kepada wartawan, di Palembang, Sabtu (12/8/2006). Lebih jauh dia menuturkan, jumlah titik api pada 1-10 Agustus 2006 dibanding periode waktu yang sama pada tahun 2005 juga mengalami peningkatan. "Pada 1-10 Agustus 2005 jumlah titik api yang terpantau satelit di Sumsel hanya 537 titik api", tambahnya. Sementara itu menurut pantauan satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) dalam minggu pertama Agustus menangkap 574 titik api yang menyebar di hampir semua kabupaten dan kota di Sumsel. Terpantau, 75 titik api terdapat di kawasan hutan primer dan sekunder, antara lain di Taman Nasional Kerinci Seblat di Kabupaten Musi Rawas. Sementara Titik api terbanyak pada minggu pertama Agustus ada di Musi Banyuasin (103), Musi Rawas (103), dan Muara Enim (99). Puluhan titik api ini muncul di kiri-kanan jalan lintas timur Sumatera, yakni Palembang-Indralaya, alhasil asap kebakaran lahan itu mengganggu aktivitas berkendaraan. Selain itu, data satelit NOAA sejak 1 - 8 Agustus 2006 mencatat 252 titik api ada di Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Musi Banyuasin 157 titik api, Kabupaten Muara Enim 230 titik. Kemudian di daerah sebelah timur Sumsel, titik api terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yakni 120 titik api dan di Kabupaten Banyuasin 109 titik. Ketua Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Indonesia Nurkholis mengatakan, pemerintah perlu memantau perusahaan perkebunan besar yang diduga sering membakar belukar guna memperluas lahan. Selain itu, dia pun meminta pemerintah untuk melakukan tindakan, mengajak petani mengendalikan tradisi pembakaran lahan yang biasa mereka lakukan. Mengantisipasi terjadinya kebakaran lahan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Selatan bekerja sama dengan Uni Eropa melalui program community development di 3 kabupaten, yaitu Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin, melatih warga setempat menjadi regu pemadam kebakaran. Pemprov Sumsel membentuk 195 regu pemadam di 48 desa beranggotakan 2.341 warga. Tim-tim ini nantinya ditempatkan di desa-desa yang rawan. Di Kabupaten Ogan Komering Ilir 48 tim dan Banyuasin sebanyak 51 tim. Dinas Kehutanan pun mempersiapkan 240 personel yang bertugas mencegah kebakaran di luar hutan. Mereka akan beroperasi di 4 wilayah, yaitu Musi Banyuasin, Banyunglincir, Ogan Komering Ilir, dan Lahat.
(ndr/)











































