Penyelesaian Lumpur Sidoarjo Bak Buah Simalakama
Sabtu, 12 Agu 2006 09:19 WIB
Jakarta -
Lumpur panas Lapindo tak kunjung berhenti meluap. Penyelesaian luapan tersebut seperti buah simalakama. Jika dibiarkan lumpur akan bertambah banyak, jika dibuang ke laut akan merusak lingkungan."Mirip buah simalakama. Pemerintah harus memilih apa yang dikorbankan, laut atau sungai, atau manusia. Ya tentunya harus mendahulukan manusia," ujar peneliti BPPT Nusa Idaman Said saat ditemui detikcom di kantor BPPT, Jl MH Thamrin, Jumat (11/08/2006).Nusa mengimbau agar segera mengambil tindakan sebelum datangnya musim penghujan 2 bulan mendatang. Peneliti yang juga ahli kimia lingkungan tersebut memberikan satu solusi air dipisahkan dari lumpurnya."Saya lihat di beberapa tepi-tepi kolam penampungan lumpurnya sudah mengendap. Tinggal air bening di bagian atasnya. Air tersebut yang nantinya akan dialirkan ke sungai terdekat. Daerah tempat lumpur itu daerah banjir. Nggak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada rumah-rumah yang masih dihuni penduduk bila hujan tiba. Tanggul bisa jebol karena nggak kuat menahan derasnya lumpur yang sudah dengan bercampur air hujan" urai dia.Menjawab pertanyaan apakah lumpur lapindo mengandung bahan-bahan berbahaya, Nusa menjelaskan ada unsur-unsur logam masih di bawah ambang batas. Zat organik yang juga terdapat di dalamnya sama seperti yang ada di air kali buangan dari berbagai tempat di Jakarta."Jadi, lumpur tersebut relatif tidak berbahaya," tandasnya.
(fjr/)










































