Muslim Aid London Bantu Bangun Rumah Korban Gempa
Rabu, 09 Agu 2006 17:53 WIB
Bantul -
Muslim Aid, LSM yang berkedudukan di London, membantu warga Bantul membangun rumah bagi korban gempa. Mereka tidak membangun rumah dengan bahan bangunan yang baru, tapi memanfaatkan sisa-sisa bangunan yang roboh. Warga korban gempa lebih dulu mengerahkan segenap kemampuannya untuk membangun kembali rumah yang roboh. Setelah itu, bahan yang kurang baru diberikan oleh donatur saat membangun kembali. Dengan cara seperti itu, LSM seperti Muslim Aid lebih mudah mencari donatur yang bersedia memberikan bantuan."Rencananya Muslim Aid akan membangun 260 unit rumah korban gempa di Bantul dan Klaten. Beberapa sudah berhasil di Bantul di antaranya di Kecamatan Pandak," kata Direktur Marketing & PR Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ir Abdul Aziz, kepada wartawan di sela-sela peninjauan di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, Rabu (9/8/2006), Dia mengatakan, model pemberian yang dilakukan Muslim Aid berbeda dengan cara dari lembaga donatur lainnya. Warga korban gempa tidak serta merta dibantu dengan dibangunkan rumah baru. Namun warga harus lebih dulu membangun rumahnya lagi dengan sisa-sisa reruntuhan yang masih bisa dimanfaatkan. "Apabila ada kekurangan baru diberikan bantuan," katanya.Menurut dia, kesungguhan itu harus ditunjukkan dengan memanfaatkan sisa-sisa bahan bangunan yang masih dapat dimanfaatkan dari rumah yang roboh. Misalnya kayu untuk daun pintu dan jendela, atap dan reng atau sisa batu bata yang masih utuh. "Prinsipnya warga harus mampu menggunakan atau memanfaatkan yang masih tersisa, setelah itu Muslim Aid baru memberikan bantuan dana yang masih kurang," katanya.Model bantuan seperti ini katanya sudah dilakukan di Dusun Gedongsari, Wijirejo, Pandak, Bantul. Di dusun ini pada tahap pertama dikerjakan pembangunan kembali 11 unit rumah yang roboh. Total seluruh rumah yang akan dibangun di dusun ini sebanyak 25 unit. Dalam pembangunan rumah itu Muslim Aid bekerjasama dengan ACT dan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).Warga setiap hari mulai bergotong royong membangun kembali rumah mereka yang roboh. Rumah yang dibangun kembali tersebut juga bukan rumah sementara. Namun, berupa rumah permanen dengan bahan batu bata dan tembok semen dengan konstruksi tahan gempa."Insya Allah lebih kuat dari rumah yang mereka miliki sebelumnya. Untuk proses pembangunan memang diawasi oleh Ir Moh Nur, staf ahli ACT untuk urusan konstruksi bangunan tahan gempa," kata Aziz.Sementara itu, Lasiyo, warga Gedongsari yang rumahnya roboh mengaku sangat bersyukur karena mendapat bantuan pembangunan kembali rumahnya yang roboh. Bila rumahnya dulu hanya dengan pilar batu bata saat ini dibuat lebih kuat dengan otot atau tulangan besi. Pondasi juga dibuat lebih kuat dan mampu menahan getaran gempa."Saya hanya memanfaatkan sisa kayu, genteng, pintu, jendela dan batu bata yang utuh. Yang kurang seperti semen, otot dibantu Muslim Aid," kata Lasiyo.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































