AS Hikam: Pengiriman TNI ke Libanon Tidak Efektif
Rabu, 09 Agu 2006 09:57 WIB
Jakarta - Kebrutalan militer Israel terhadap Palestina dan Libanon memicu Indonesia bersiap diri mengirimkan satu batalyon TNI ke Libanon sebagai bagian pasukan perdamaian di bawah payung Dewan Keamanan PBB. Namun sikap dan kebijakan tersebut seyogyanya tidak dilakukan secara gegabah. Harus dipertimbangkan, apakah pengiriman itu efektif atau tidak."Di tengah kondisi bangsa seperti ini, pemerintah seharusnya berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan. Jangan terburu-buru. Justru malah akan tidak efektif," pendapat AS Hikam pada detikcom, Rabu (9/8/2006).Menurut Hikam, seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan komunikasi diplomatik dengan negara-negara dunia ketiga yang tergabung dalam OKI dan Gerakan Non-Blok untuk mendesak PBB dan Amerika Serikat turun tangan. "Kuncinya bukan di Israel, tapi justru di Amerika Serikat. Kalau AS dapat dipegang, maka Israel pun bisa dihentikan. AS tidak selamanya bersikap ignore," kata mantan peneliti LIPI ini.Oleh sebab itu, OKI dan Gerakan Non-Blok harus menjadi kekuatan untuk mendesak AS dan PBB. Inilah saatnya dunia ketiga menunjukkan kekuatan diplomatiknya.Pengiriman TNI ke Libanon, lanjut Hikam, sangat tidak efektif. Sebab sampai saat ini, PBB saja yang memiliki kewenangan belum memberikan kepastian terhadap Israel dan Libanon. Jadi akan sia-sia penggalangan pasukan yang dilakukan."Anggaran Rp 300 miliar tentu akan mempengaruhi budget TNI. Karena itu, sebaiknya SBY mempertimbangkan kembali kebijakan pengiriman pasukan ke Libanon," tandasnya.
(nrl/)











































