Kisah Seorang Calon Relawan Libanon asal Medan
Rabu, 09 Agu 2006 09:10 WIB
Medan - Kendati didorong keinginan yang sama untuk membantu Libanon dan Palestina dari gempuran Israel, namun selalu ada alasan lebih khusus yang membuat calon relawan ingin berangkat Libanon. Salah seorang calon relawan di Medan, Sumatera Utara (Sumut) menyatakan, yang justru lebih kuat mendorong ia pergi, adalah keinginannya untuk menewaskan seorang Yahudi di medan perang. Keinginan untuk ikut berperang melawan Yahudi, bagi Qadirun, memang sudah lama terpendam. Sejak masa Israel menggempur Palestina dahulu. Makanya, ketika Front Pembela Islam (FPI) Sumut membuka posko pendaftaran untuk berangkat jihad ke Libanon dan Palestina, dia pun segera mendaftar. Posisinya sebagai Ketua Badan Investigasi FPI Sumut, dirasa mendukung untuk itu."Insya Allah saya siap bahkan jika mati syahid sekali pun," kata Qadirun, kepada detikcom, Rabu (9/8/2006) di Posko Pendaftaran Relawan Jihad ke Libanon dan Palestina FPI Medan dan Sumut di Komplek Mesjid Al Qanithin, Jalan Damar 46 Medan. Qadirun merupakan pria usia tengah baya yang kini berusia 47 tahun. Bekas hitam di bagian kening menandakan dia rajin salat. Janggut putih dipelihara panjang. Sementara pakaiannya berupa baju terusan berwarna putih. Sehari-harinya, penduduk Jalan Titi Papan, Medan ini, merupakan pedagang kerupuk. Usaha dagangnya inilah untuk membiayai hidup bersama istri dan lima anak. Menurut Qadirun, kepergian ke Libanon nantinya, merupakan kerja besar dari keinginan kuatnya untuk berperang langsung dengan Yahudi. Dia mengaku sering sedih melihat perlakuan yang dialami rakyat Palestina dan Libanon akibat digempur Israel, sementara dunia internasional tidak berbuat apa-apa. Untuk membantu dalam bentuk uang, maupun barang, Qadirun menyatakan tidak memiliki kemampuan. Satu-satunya yang dia punya hanyalah tenaga dan nyawa di badan. Jadi itulah yang akan dia sumbangkan ke Libanon atau Palestina, tergantung di mana dia ditempatkan nantinya."Anak saya menangis waktu saya bilang mau berangkat ke Libanon. Menangis bukan karena apa-apa, tetapi karena dia hanya bisa memberikan cincin untuk membantu ongkos saya. Semua keluarga ikhlas dan mendukung kepergian saya nanti," kata dia. Menurut Qadirun, mereka yang akan diberangkatkan FPI ke Libanon sudah melewati serangkaian tahapan seleksi. Uji kesehatan dilakukan dokter yang berasal dari kalangan FPI sendiri. Pelatihan bela diri berupa Tae Kwondo juga ada. Sementara sejumlah alumni Afganistan dan Ambon turut memberikan wejangan untuk persiapan keberangkatan. "Ibaratnya kita ini sudah menjadi piring kosong. Jadi mau dijadikan tempat apa saja siap. Mau dijadikan relawan bidang kesehatan bisa, membantu bidang lain bisa, berperang juga siap. Justru sebagian besar kami berkeinginan langsung mengangkat senjata. Saya sendiri ingin dengan tangan saya membunuh Yahudi dalam medan perang," kata Qadirun. Mengenai kondisi peperangan yang bisa menyebabkan berbagai kemungkinan dan panasnya suhu udara di Libanon, Qadirun menyatakan hal itu bukanlah masalah. Sebab api neraka justru lebih panas.
(asy/)











































