Jelang HUT ke-61 RI
Mengingat Para PM Berusia Muda
Rabu, 09 Agu 2006 09:03 WIB
Jakarta - Dibanding zaman sekarang, bisa jadi pemuda di zaman revolusi lebih luar biasa. Bayangkan, di umur 40-an, mereka sudah menjadi Perdana Menteri (PM), memimpin Indonesia. Kini, nama-nama mantan PM Indonesia nyaris terlupakan. Sejarah mencatat ada 10 mantan PM Indonesia pada saat pemerintahan Indonesia bersistem parlementer. Ke-10 mantan PM itu adalah Sutan Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Mohammad Hatta, Abdul Halim, Muhammad Natsir, Sukiman Wirjosandjojo, Wilopo, Ali Sastroamidjojo, Burhanuddin Harahap, dan Djuanda Kartawidjaja. Para mantan PM tentu sangat berjasa terhadap negara Indonesia. Sebagian nama PM ini dikenang atas keharumannya, tapi ada juga mantan PM yang memiliki stigma buruk, karena pernah terjerembab dalam kegiatan kelam politik. Terlepas dari itu, para mantan PM ini merupakan orang-orang hebat. Mereka bisa menjadi pemimpin Indonesia dalam usia yang relatif muda. Sesuatu yang tidak pernah terjadi seusai pemerintahan Soeharto. Mereka tetap berjasa dalam membangun negara Indonesia. Sutan Sjahrir menjadi PM pertama, dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Sjahrir yang merupakan tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) menjadi PM saat berumur masih sangat muda, 36 tahun. Sjahrir lahir di Padangpanjang 5 Maret 1909. Sjahrir meninggal dunia di Zurich, Swiss sebagai tawanan politik 9 April 1966. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Selain sebagai PM pertama, Sjahrir juga berperan sebagai ketua delegasi dalam perundingan Linggarjati. Sjahrir ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional. Kabinet Sjahrir jatuh, Amir Sjarifoeddin (sering ditulis Amir Syarifuddin-Red) terpilih menjadi PM RI kedua. Amir menjadi PM mulai 3 Juli 1947 sampai 19 Januari 1948, dalam usia yang juga relatif muda, 40 tahun. Amir lahir di Medan 27 April 1907. Sebelum menjadi PM, Amir merupakan salah seorang menteri pada kabinet Sjahrir I, Sjahrir II, dan Sjahrir III. Amir juga menjadi negosiator dalam perjanjian Renville. Di tahun 1948, Amir yang tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) itu diisukan terlibat dalam pemberontakan PKI di Madiun. Pada 19 Desember 1948, Amir ditembak mati di Desa Ngalihan, Karanganyar dan dimakamkan di sana. Amir meninggal dalam usia yang masih muda, 41 tahun. Pada 29 Januari 1948, Mohammad Hatta menjadi PM Indonesia ketiga. Saat menjadi pemimpin Indonesia, Hatta juga masih berumur relatif muda, 46 tahun. Pria kelahiran Bukittinggi 12 Agustus 1902 itu menjabat PM hingga 16 Januari 1950. Mantan Wakil Presiden RI pertama ini meninggal dunia di Jakarta pada 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Abdul Halim menjadi PM keempat pada 16 Januari 1950 dalam usia 39 tahun. Pria yang berasal dari nonpartisan ini hanya setengah tahun menjabat PM. Pada 5 September 1950, Halim harus menanggalkan jabatan PM. Halim menjadi PM saat Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Di akhir hayatnya, Halim yang merupakan seorang dokter ini mengabdikan diri di RSCM. Halim meninggal dunia pada tahun 1988 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Pada 5 September 1950, Muhammad Natsir diangkat menjadi PM kelima, dalam usia 42 tahun. Pria kelahiran Minangkabau 17 Juli 1908 ini berasal dari Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Kabinet Natsir jatuh pada 26 April 1951. Natsir yang menjadi salah seorang tokoh Islam ini meninggal pada 1993 dan dimakamkan di Jakarta. Sukiman Wirjosandjojo (1898-1974) merupakan PM keenam yang menjabat pada 27 April 1951 - 3 April 1952 dan memimpin kabinet yang dikenal dengan nama Kabinet Sukiman-Suwirjo. Sukiman adalah tokoh politik dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang juga dikenal sebagai tokoh Masyumi. Selanjutnya, pada 3 April 1952, Wilopo menjadi PM ketujuh, dalam usia 44 tahun. Kabinet Wilopo bertahan selama satu tahun. Pada 30 Juli 1953, Wilopo yang berasal dari PNI harus meletakkan jabatannya. Sebelum menjadi PM, Wilopo pernah menjadi menteri di Kabinat Amir Syarifuddin I dan II dan menteri di kabinet Sukiman-Suwirjo. Wilopo meninggal dunia 1981 dan dimakamkan di Tanah Kusir. Ali Sastroamijoyo menjadi PM kedelapan pada 30 Juli 1953. Tokoh dari PNI ini menjadi PM ketika berusia 50 tahun. Ali sebelumnya menjadi menteri di Kabinet Presidensial I, Amir Syarifuddin I, Amir Syarifuddin II, dan Hatta I. Ali meletakkan jabatannya pada 11 Agustus 1955. PM kesembilan dijabat oleh Burhanuddin Harahap dari Masyumi pada 11 Agustus 1955. Saat itu, Burhanuddin baru berusia 38 tahun. Burhanuddin yang alumnus Fakultas Hukum UGM ini harus meletakkan jabatan PM pada 20 Maret 1956. Burhanuddin meninggal dunia pada 1987 dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Pada Maret 1956, Ali Sastroamijoyo untuk kedua kalinya diangkat sebagai PM. Ali menjabat PM kesepuluh ini hingga 9 April 1957. Ali Sastroamijoyo meninggal dunia pada 1976 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Djuanda Kartawijaya dari PNI menjadi PM kesebelas pada 9 April 1957, dalam usia 46 tahun. Djuanda menjadi PM untuk terakhir kalinya, hingga 5 Juli 1959. Pada tanggal 5 Juli 1959 lahir dekrit yang menyatakan kembali ke UUD 45. Djuanda meninggal pada 1976 dan jenazahnya dimakamkan di TMP Kalibata. Semakin lama, para mantan PM ini tak terdengar suaranya. Memang ada sebagian mantan PM yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional dan diabadikan sebagai nama jalan, sehingga dikenal banyak orang. Namun, sebagian lainnya tenggelam begitu saja, meski umur kemerdekaan RI sudah mencapai 61 tahun. Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya!
(asy/)











































