Pola Rekrutmen Parpol yang Kacau Jadi Sumber Korupsi

Pola Rekrutmen Parpol yang Kacau Jadi Sumber Korupsi

- detikNews
Rabu, 09 Agu 2006 01:38 WIB
Jakarta - Korupsi di Indonesia sepertinya tidak ada habis-habisnya. Meskipun gerakan anti korupsi saat ini cukup gencar disuarakan, baik oleh pemerintah, lembaga independen, maupun masyarakat. Ironisnya, partai politik (parpol) yang menjadi salah satu pilar demokrasi menjadi salah satu celah korupsi. Sumbernya bisa berasal dari pola rekrutmen yang tidak baik dilakukan parpol itu. "Partai yang tidak konsisten membangun rekrutment politik. Ketika rekrutmentnya tidak beres, ketika sistem keuangannya tidak beres, maka itu menjadi sumber korupsi," kata penasehat Partnership Bambang Widjojanto usai acara Malam Refleksi dan Peluncuran Buku "Melawan Korupsi Dari Aceh Sampai Papua", di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Selasa (8/8/2006). Menurutnya, perilaku korupsi di tubuh parpol dapat mempengaruhi lembaga-lembaga lain dalam struktur kepemerintahan. Serta konfigurasi politik di suatu daerah pemilihan juga menjadi faktor yang mendorong terjadinya tindakan korupsi di daerah tersebut. "Konfigurasi politik itu tidak menjamin kohesivitas sosial sehingga merongrong kepala pemerintah daerah. Itu menjadi sumber korupsi," lanjut Bambang. Selain itu, Bambang juga mengatakan gerakan pemberantasan korupsi yang selama ini disuarakan berbagai pihak tidak hanya dilakukan secara massif, tapi juga harus ditingkatkan kualitasnya. Salah satunya adalah melalui penyederhanaan persepsi pemberantasan korupsi."Selama ini gerakan anti korupsi selalu pendekatannya melalui penegak hukum, KPK, dan segala macam. Selama ini orang itu melihat korupsi itu sistemik, terstruktur, jadi sulit dilawan. Seharusnya, persepsi pemberantasan korupsi itu dibuat mikro spasial, supaya orang itu terasa pemberantasan korupsi itu sampai ketingkat dasar," ujarnya. Contohnya, kata Bambang, kontrol publik yang dilakukan oleh sebuah LBH di Sulawesi terhadap penyeenggaran administrasi di kelurahan, atau fakultas hukum universitas tertentu."Kalau pemberantasan korupsi dibuat dalam mikro spasial, maka orang juga akan merasakan," jelasnya. (ary/)


Berita Terkait