RI Tunggu Konsep Pasukan Perdamaian dari PBB

RI Tunggu Konsep Pasukan Perdamaian dari PBB

- detikNews
Selasa, 08 Agu 2006 19:37 WIB
Jakarta - Pengiriman pasukan TNI untuk berpartisipasi dalam pasukan penjaga perdamaian PBB di Libanon dan Palestina, tak hanya menunggu perintah PBB. Tapi juga tergantung konsep mandat penugasan dan formulasi politik gencatan senjata yang tengah dibahas DK PBB. "Yang sekarang kita tunggu penjelasan DK PBB kepastian mengenai dua konsep pasukan perdamaian yang akan direalisir," kata Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (8/8/2006). Ada dua konsep mengenai pasukan perdamaian di dalam Piagam PBB. Pertama, sebagai pasukan pemelihara dan menjaga perdamaian dengan bendera PBB (bab 6). Kedua, pasukan multinasional yang memaksakan perdamaian dan untuk itu diperkenankan menembaki warga di lapangan (bab 7). "Kalau itu pasukan multinasional, bukan PBB dan bertujuan paksakan perdamaian, sulit bagi kita berpartisipasi dalam konsep tersebut," tegas dia. Dino mengungkapkan, dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Sekjen PBB Kofi Annan menyambut baik niat Pemerintah RI berpartisipasi dalam struktur pasukan perdamaian PBB untuk Palestina-Libanon. Selain itu Annan juga berjanji akan mengkonsultasikan langkah-langkah berikutnya. Terkait pembahasan draf resolusi, Anan di dalam surat tertanggal 28 Juli 2006 tersebut mepaparkan berbagai langkah yang telah ditempuhnya untuk mengupayakan sidang DK PBB mengambil langkah konkret menghentikan konflik di Timur Tengah. Surat balasan Presiden SBY telah dikirim pada Senin (7/8/2006) malam. Intinya kurang lebih sama dengan suratnya yang pertama, yakni mendesak Sekjen PBB berupaya maksimal agar DK PBB dapat meng-gol-kan gencatan senjata di Libanoan dan Palestina yang komprehensif, segera, dan tanpa syarat. "Sekarang ada proses alot di DK PBB untuk mengambil keputusan. Rabu (waktu New York, AS atau Kamis waktu Indonesia) akan diambil voting terhadap draf resolusi. Yang perlu diperhatikan apakah bisa lebih cepat dari itu atau on time, sementara situasi di lapangan makin memanas dan berjatuhan banyak korban," imbuh Dino. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads