7 Nama Anggota DPR Calo Dana Bencana Beredar
Selasa, 08 Agu 2006 17:44 WIB
Jakarta - 7 Nama anggota DPR yang diduga turut mengajukan proposal bantuan bencana kepada Menko Kesra beredar di kalangan wartawan di Gedung DPR. Namun, mereka membantah melakukan percaloan. Nama-nama tersebut, yaitu Emir Moeis (FPDIP), M Tonas (FBPD), Ahmad Hafidz Zawawi (FPG), Baharudin asari (FPKB), Rudianto Tjen (FPDIP), Jabaruddin Ahmad (FPPP), dan Nurhadi Musawar (FPAN).Rudianto Tjen beberapa waktu lalu telah membantah adanya ancaman dalam pengajuan proposal bantuan bencana. Sementara nama Baharuddin Nasori telah beredar berdasar pernyataan salah seorang pejabat di kantor Menko Kesra. Saat dikonfirmasi, Emir Moeis yang juga Ketua Panitia Anggaran DPR membantah keterlibatan dirinya. Dia bahkan mengaku tidak tahu menahu dengan persoalan ini. "Nggak betul itu. Saya tidak tahu apa-apa kali ini," ujar Emir dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Selasa (8/8/2006).Sementara itu M Tonas menyatakan dirinya memang pernah mempertanyakan daerah Riau yang tidak masuk daftar daerah penerima bantuan bencana. Hal itu ditanyakan dalam rapat Panja B Panitia Anggaran pada pertengahan Juli 2006. "Apa salah saya mempertanyakan itu," ujar Tonas di gedung DPR, Senayan,Jakarta.Dalam rapat tersebut, ungkap Tonas, justru Sekretaris Menko Kesra Sutedjo Yuwono-lah yang mendatangi dirinya dan meminta dokumen permohonan bencana Pemprov Riau kepada Depkeu. "Waktu itu saya pegang salinannya. Saya dapat itu dari Gubernur Riau. Sesmenko Kesra saat itu justru mendatangi saya dan meminta dokumen itu," ungkapnya. Karenanya Tonas mempertanyakan mengapa dirinya disebut-sebut sebagai calo anggaran dana bantuan. Selain Emir dan Tonas, Jabaruddin Ahmad menyatakan tidak pernah mengancam pihak Menko Kesra. Dia mengaku pernah memprotes sejumlah daerah yang mendapat bantuan. Padahal daerah tersebut tidak layak mendapat bantuan."Itu sifatnya usulan, bukan ancaman. Nggak ada istilah ancaman. Faktanya ada daerah yang belum diurus, dan kewajiban saya untuk urus. Soal-soal teknis selanjutnya saya nggak ngerti," ujar Jabaruddin kepada detikcom per telepon.
(asy/)











































