JCSC, Rumah Singgah yang Jadi Buah Bibir

JCSC, Rumah Singgah yang Jadi Buah Bibir

- detikNews
Selasa, 08 Agu 2006 16:38 WIB
Jakarta - Rumah singgah itu berupa bangunan permanen berlantai dua. Ada 5 kamar tidur dan 3 kamar mandi di dalamnya. Sementara poster bertema sosial banyak menghiasi dinding ruangan. Di gerbang masuk menyambut sebuah poster dari gabus bertuliskan 'Pendidikan Gratis 100 persen'. Garasi ada di samping bangunan itu, namun isinya hanya tumpukan barang-barang bekas.Fasilitas di rumah singgah ini boleh dibilang cukup lengkap. Ada TV, komputer untuk belajar, telepon dan mesin faks serta mesin cuci, tersedia di sini. Dari daftar resmi ada 25 anak dan remaja yang tercatat menghuni rumah itu. Tapi biasanya hanya 10-15 anak yang rutin muncul.Rumah singgah yang terletak di Jl Jalan Percetakan Negara XI A, Jakarta Pusat, ini adalah tempat Jakarta Center for Street Children (JCSC) menampung anak-anak jalanan. JCSC belakangan ini menjadi buah bibir karena beberapa anak didiknya menjadi korban kejahatan seksual paedofil asal Australia, Peter W Smith. Saat ini guru bahasa Inggris itu mendekam di sel Mapolda Metro Jaya.Aktivitas sehari-hari di rumah singgah ini biasa diisi dengan melakukan kegiatan pendidikan informal berupa kejar paket A, B, dan C."Tapi semenjak bulan Juni tidak ada tutornya, karena sudah mendapat pekerjaan baru jadi guru sekolah. Ya sekarang terpaksa belajar sendiri. Nanti kalau tidak mengerti nanya-nanya teman aja," tutur Agus (18), salah satu penghuni JCSC yang ditemui detikcom, Selasa (8/8/2006).Sebenarnya para penghuni rumah singgah ini ditawari untuk bersekolah formal, tapi hanya 3 orang yang menyambut tawaran itu, yakni 1 anak di SMP dan 2 anak di SMU. "Yang lain lebih memilih untuk ikut kursus mengemudi maupun mekanik," tutur Agus yang juga biasa mengamen di bus kota.Para penghuni rumah singgah ini berasal dari berbagai daerah di Jakarta maupun luar Jakarta seperti Surabaya, Solo dan Cianjur. Berbagai alasan melatarbelakangi mereka lebih memilih tinggal di rumah singgah. Biasanya karena masalah ekonomi atau masalah karena orang tua. Untuk urusan perut anak-anak ini tidak perlu khawatir, karena JCSC memberikan makan 2 kali sehari. Tapi sesuai aturan, untuk hari Minggu mereka harus bahu-membahu memasak sendiri. "Peralatan mandi kita juga disediakan. Kalau pakaian ada yang bawa dari rumah tapi ada juga yang dikasih," ujar Agus.Anak-anak jalanan ini bila tidak nongkrong di rumah singgah, mereka biasa mengisi hari dengan berprofesi sebagai pengamen, baik di bus-bus kota atau di lampu merah.Menurut seorang penghuni yang lain, Mumu (22), mereka juga sering naik panggung. Seperti yang mereka lakukan pada tanggal 26 Juli 2006 lalu dengan membaca puisi, bermain teater dan musik, di Depok. "Nanti pada 20 Agustus kita juga diundang main di acara independent music festival. Kita coba mau main perkusi dengan alat-alat dari bambu. Kita akan bereksperimen diselingi baca puisi," urai Mumu. (ndr/)


Berita Terkait