Kawasan Golf Ditutup, Ratusan Caddie Semarang Berontak
Senin, 07 Agu 2006 18:02 WIB
Semarang - Ratusan caddie yang bekerja untuk Semarang Golf Club (SGC) menggelar protes karena SGC akan ditutup. Mereka minta diberi tali asih. Protes para caddie itu dilakukan di SGC Jalan Sisingamangaraja, Senin (7/8/2006) siang. Mereka membawa serta istri dan anaknya untuk menunjukkan penutupan itu akan berimbas pada kelangsungan hidupnya. Menurut mereka, pada tahun 2003, pengelola SGC memang menyetujui adanya tukar guling lahan dengan Pemerintah Kota. SGC akan dipindah ke Tinjomoyo. Sayang, PT Putra Wahid sebagai pengelola ingkar janji. "Di lahan baru tersebut, ternyata sudah ada caddie, sehingga kami tak bias bekerja lagi," kata M Sudono (66). Karena tak dapat lahan pekerjaan, massa meminta SGC batal ditutup. Namun jika memang permintaan itu tak bisa dipenuhi, mereka hanya meminta pesangon dari pihak pengelola. "Kami meminta uang tunggu sebesar Rp 5 juta untuk pekerja yang akan dipindah ke tempat baru dan Rp 15 juta untuk pekerja yang di-PHK," kata Sudono. Kakek 12 cucu ini menyebutkan, SGC mempunyai nilai sejarah. Pada 1901, di tempat tersebut kali pertama Belanda Open atau turnamen golf pada zaman Belanda digelar. Jika tempat ini berubah fungsi tentu akan menghilangkan sejarah yang ada. Selain itu, SGC merupakan daerah resapan air. Jika lahannya dialihfunsgikan, maka kondisi lingkungan akan terganggu. Dalam unjuk rasa yang berlangsung damai itu, massa tidak dapat bertemu dengan pengelola SGC. Mereka mengancam akan audiensi dengan Pemkot Semarang dibantu IKBS (Ikatan Keluarga Besar Semarang) dan LBH (Lembaga Bantuan Hukum). SGC mempunyai 120 caddie dan 60 karyawan. Penghasilan para caddie, biasanya berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan.
(nrl/)