Ragam Suara Soal Fatwa Haram Infotainmen

- detikNews
Senin, 07 Agu 2006 15:03 WIB
Jakarta - Ragam suara bermunculan mengomentari fatwa haram infotainmen yang diwacanakan pengurus PBNU. Ada yang pro ada juga yang kontra. Ada yang tegas mendukung ide itu, tapi ada yang juga meminta agar Nahdlatul Ulama (NU) yang menelorkan isu itu melihat diri mereka terlebih dahulu."NU harusnya lebih introspeksi lebih dahulu, tidak bisa menyalahkan media karena media punya logika sendiri. Perbaiki diri sendiri dahulu," kata tokoh wanita NU, Dr Musdah Mulia, di Teater Utan Kayu, Jl Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Senin (7/8/2006).Sementara suara persetujuan dengan lantang diserukan pakar komunikasi Universitas Padjadjaran Dr Jalaluddin Rakhmat. Pria yang akrab disapa Kang Jalal ini menyatakan bahwa etika di Barat saja menjatuhkan kehormatan seseorang bisa dikenai tuntutan, sehinggaa dia menyetujui fatwa haram itu."Banyak sekali korban akibat infotainmen itu. Saya pikir tayangan infotainmen itu lebih bermuatan untuk persaingan bisnis para artis," cetusnya di tempat yang sama.Tak jauh berbeda, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJU) Heru Hendratmoko melihat isu haramnya infotainmen sebagai kritik keras terhadap industri-industri pemberitaan artis."Banyak yang harus diungkap, tidak hanya melulu gosip privasi dan personal," cetus Heru.Dia juga menceritakan bahwa infotainmen di negeri Barat lebih cerdas, dengan kemasan enak ditonton, lucu dan menyenangkan. "Seperti Oprah Winfrey Show. Mereka mendatangkan artis, tetapi tidak pernah ditanyakan sampai privasi mereka," ujar Heru yang juga news director sebuah radio ini.Dia juga mengaku bisa menerima apa yang dikeluarkan oleh NU, karena fatwa itu mengikat ke dalam organisasi dan tidak ofensif."Hal ini berbeda dengan kelompok lain yang selain mengikat ke anggotanya juga memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Anda tahu sendiri siapa orangnyalah," kilahnya.

(ndr/)