LSI: 42,3% Responden Keberatan Tempat Ibadah Agama Lain
Senin, 07 Agu 2006 11:55 WIB
Jakarta - Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan 42,3 persen masyarakat keberatan bila penganut agama lain mendirikan tempat ibadah di lingkungannya. Sedangkan NU merupakan organisasi yang paling dapat diterima program-programnya.Demikian hasil survei yang disampaikan peneliti LSI Iman Suhermandalam diskusi bertajuk Media dan Keberagaman di Teater Utan Kayu, Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Senin (7/8/2006).Survei yang mengenai "Toleransi sosial masyarakat Indonesia" inidilaksanakan di 33 provinsi dan diikuti 1.200 responden dengan sistem proporsional dan acak.Nah hasilnya, 42,3 persen masyarakat keberatan bila penganut agama lain mendirikan tempat ibadah di lingkungannya.Sedangkan 38,1 persen masyarakat tidak keberatan pendirian rumah ibadah di lingkungannya.Mengenai tingkat kepercayaan terhadap orang lain menunjukkan 87,6 persen masyarakat tidak percaya kepada orang lain. Sedangkan hanya 7 persen yang dapat percaya kepada orang lain.Selanjutnya tentang program-program yang diperjuangkan sebuah organisasi, hasilnya menunjukkan Nahdlatul Ulama (NU) diterima di 71,7 persen masyarakat, disusul MUI dengan 59,1 persen, dan FPI 16,9 persen."Angka-angka tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat masih tergolong rendah. Hal itu terlihat dari pihak yang menyataan keberatan terhadap pembangunan tempat ibadah, meski tidak besar," kata Iman.Menurut dia, rendahnya social trust menunjukkan hal yang buruk dalam kerjasama antarwarga dan menghambat solidaritas sosial."Organisasi keagamaan tradisional masih dominan. NU menempati peringkat teratas. 8 dari 190 orang Indonesia setuju terhadap hal-hal yang diperjuangkan NU," ujarnya.Aktivis Lintas Agama, Musdah Mulia, menilai kebebasan agama hanya pada tataran simbolis dan legal formal."Pluralisme tidak hanya mengakui bahwa kita beda, akan tetapi harus dari kesadaran itu adalah keniscayaan," cetusnya.Solusinya, menurut dia, dibutuhkan rekonstruksi budaya dari intoleran menjadi toleran."Yang terpenting mengganti buku agama teks sekolah yang bernada kebencian," kata Musdah.
(aan/)











































