3 Tahun Bom Marriott, Trauma Masih Bayangi Korban
Sabtu, 05 Agu 2006 23:24 WIB
Jakarta - Tepat 3 tahun setelah tragedi bom di Hotel JW Mariott 5 Agustus 2003 silam, air mata itu belum juga habis mengalir dari kelopak mata para korban aksi teroris itu.Para korban yang bernanung dalam suatu yayasan, yang diberi nama sesuai dengan tanggal peristiwa itu, kini berkumpul lagi. Mereka berkumpul dalam acara renungan 3 tahun kejadian Bom Mariott di Klub Rasuna, Kuningan, Jakarta, Sabtu (5/8/2006)."Tahun pertama kita berkumpul untuk bersyukur bisa sembuh dari pengobatan,. Tahun kedua kita sudah dapat bekerja. Dan tahun ketiga, kita ingin gugah hati orang lain. Secara fisik kita sembuh, tapi belum tentu psikis kita," kata Ketua Yayasan 58, Wahyu Adiartono.Cipika-cipiki terlihat pada saat mereka tiba di ruangan seluas 10 X 15 meter itu. Suasana hangat pun tercipta di antara mereka yang membawa sanak keluarganya.Acara ini tidak hanya dihadiri para korban warga Indonesia, namun juga 2 warga bule terlihat membaur dengan para korban lainnya yang hadir. Tampak pula hadir salah satu promotor musik Adrie Subono hadir. Karena kantor Java Musikindo yang hanya berjarak sekitar 10 meter ini terkena dampak bom itu.Acara renungan ini pertama kali diisi dengan acara diskusi dan bedah buku Tragedi Marriott. Salah satu pembicara yang hadir adalah Nassir Abbas, mantan anggota Jamaah Islamiyah yang kini membantu Polri untuk memberantas terorisme.Ketika waktu mulai menunjukkan pukul 12.45 WIB, seluruh korban dan keluarga korban diminta bangkit dari tempat duduknya. Karena tepat pukul itulah, 3 tahun yang lalu, mereka menjadi korban. Dan inilah puncak dari acara renungan ini.Pembawa acara langsung membacakan doa renungan. Para , titik-titik air mata mulai menetes di kening tiap korban keganasan teroris itu. Seorang ibu muda yang ditinggalkan sang suaminya, tak kuasa menahan haru mengingat kejadian 3 tahun yang lalu itu. Secarik tisu pun langsung diraih dari kantong tasnya.Suasana haru itu berlangsung sekitar 5 menit. Dan usai pembacaan doa, para korban pun langsung sibuk kembali mencari sapu tangan maupun kertas tisu yang kering untuk mengusap air matanya.Suasana kembali mencair sekitar 10 menit kemudian. Setelah terlihat mencair, acara pun beralih ke makan-makan.Salah seorang janda korban bom, Mujainah (45) mengungkapkan dirinya masih belum dapat menghilangkan rasa haru dan trauma yang dialaminya."Kayaknya belum bisa hilang dan baru terjadi kemarin. Kita tahu kejadiannya. Suami saya meninggalnya paling terakhir. Dan pada saat itu dia terbakar, dan meninggal keesokan harinya," tutur istri dari petugas keamanan di Plaza Mutiara, Samadin.Mujainah kini harus membesarkan 4 anaknya sendirian. "Tapi untung, yang 2 sudah kerja. Jadi tidak terlalu berat amat lah," ujarnya yang mengaku hanya berprofesi sebagai ibu RT alias ibu rumah tangga.Hal serupa juga diungkapkan seorang ibu muda, Sri Lestari (31). Ibu dari seorang putera berusia 10 tahun ini berkisah dia masih dapat mencukupi kehidupan sehari-harinya dari uang yang berasal dari santunan pihak swasta."Kalau dari pemerintah, saya tidak tahu dapat atau tidak," jelasnya yang mengaku kehilangan suaminya yang bernama Edi Sucipto, petugas keamanan di Hotel Marriot. "Padahal dia baru 10 hari kerja," imbuhnya.Selain itu, para korban yang langsung mengalami kejadian itu, juga mengungkapkan kekecewaannya pada pemerintah yang kurang perhatian terhadap korban bom Marriott ini."Bantuan hanya diberikan pada saat perawatan saja. Itu pun hanya 1 bulan. Padahal mereka kan masih memerlukan biaya untuk mengobati luka-luka dan membiayai kehidupan keluarganya. Dan biayanya cukup besar," ujar Vivi Normasari yang mengalami luka bakar pada leher dan kedua tangannya.Ketua Yayasan 58, Wahyu Adiartono mengungkapkan, saat ini para korban dapat terus bertahan hidup lantaran pihaknya mendapatkan sejumlah bantuan dana dari berbagai pihak. "Yang jelas bukan dari pemerintah," tegas Wahyu yang mengalami luka bakar hampir di seluruh tubuhnya itu dan hingga kini masih membekas.Wahyu menjelaskan, sejumlah program pun juga tengah disiapkan. Seperti membuat suatu koperasi dan program beasiswa."Bagaimana bisa eksis ya seperti itu," ujarnya yang juga mengakui masih trauma jika mendengar suara-suara keras. "Kalau terdengar pintu dibanting saja, saya takutnya bukan main," tutupnya.
(bal/)











































