Deteksi Teroris, Polda Jateng Minta Buku Wora-wiri Diaktifkan
Sabtu, 05 Agu 2006 21:11 WIB
Semarang - Kewaspadaan terhadap tindak dan pelaku terorisme tidak pernah berhenti. Polda Jateng minta Pemerintah Desa (Pemdes) mengaktifkan buku wora-wiri untuk mengendus keberadaan teroris.Buku wora-wiri adalah catatan harian keluar masuknya tamu di suatu desa. Dari catatan itu, aparat bisa mendeteksi orang-orang yang mencurigakan, termasuk jaringan teroris."Potensi kerawanan teroris selalu ada. Karena itu kita terus meningkatkan kewaspadaan," kata Kapolda Jateng Irjen Pol Dody Sumantyawan HS usai simulasi Dalmas dengan standar baru di Jalan Pahlawan, Semarang, Sabtu (5/8/2006).Dody menjelaskan, sesungguhnya tingkat kewaspadaan masyarakat Jateng sudah cukup tinggi. Hal itu terbukti dengan suksesnya Polri menyergap jaringan teroris di Wonosobo."Dalam peristiwa itu, tak ada satu pun anggota masyarakat yang jadi korban. Ini berarti masyarakat punya kesiagaan yang cukup," lanjutnya.Hingga saat ini, kepolisian tidak mengendurkan semangat memburu jaringan teroris. Menurut Dody, kewaspadaan itu tidak ditunjukkan secara terbuka agar tidak mengganggu ketertiban umum.Dody menambahkan, saat ini tim Detasemen Antiteror 88 juga terus bergerak. Agar gerakan tersebut efektif, dia meminta masyarakat tingkatan paling bawah membantu menyuplai informasi.Simulasi DalmasSementara dalam simulasi pengendalian massa (dalmas), sebanyak 2012 personel diterjunkan. Ada yang bertindak sebagai demonstran dan ada yang berperan sebagai polisi. 'Laga' ini dilakukan untuk mengantisipasi demonstrasi yang cenderung anarkis.Simulasi yang ditonton langsung Kapolda Irjen Dody Sumantyawan HS, Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Agus Soeyitno, dan Muspida Jateng ini berbeda dengan penanganan aksi unjuk rasa sebagaimana biasanya.Saat menghadapi demonstran, polisi menggunakan pola berlapis, mulai dari Samapta, Dalmas tanpa senjata hingga personil dengan peluru karet dan angin."Kita lakukan pendekatan persuasif dulu. Kalau gagal, baru tindakan tegas. Yang jelas, penanganan unjuk rasa dengan standar baru Polri ini tak melanggar HAM," ujar Dody.Dalam simulasi itu, kepolisian menggunakan water cannon, tim satwa seperti kuda dan anjing, serta personil bersenjata dengan peluru karet dan angin.Meski hanya simulasi, para personil yang terdiri dari Polwiltabes Semarang, Polda, dan Brimob Polda itu terlihat serius.
(umi/)











































