Negara Maju Lebih Terpukul Dampak Krisis Timteng
Sabtu, 05 Agu 2006 16:41 WIB
Solo - Dampak agresi militer membabi-buta oleh Israel justru akan lebih dirasakan negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat yang sejak awal mendukung agresi. Negara maju terancam dirudung krisis ekonomi dan ledakan pengangguran.Hal tersebut disampaikan guru besar ekonomi yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bambang Setiadji, kepada wartawan sebelum acara diskusi yang diadakan oleh BPD Hipmi Jateng di Solo, Sabtu (5/8/2006).Menurut Bambang, tindakan gegabah telah dilakukan Israel dan AS dengan melakukan serangan pada negara-negara Arab yang kaya minyak. "Padahal masa depan negara maju itu sangat tergantung pada cadangan minyak di kawasan tersebut," imbuhnya.Krisis tersebut akan memicu naiknya harga minyak di pasaran dunia. Jika Perang Irak, tambahnya, mengakibatkan kenaikan harga minyak US$ 60 hingga US$ 70 per barel maka kenaikan harga minyak akibat serangan Israel itu bisa lebih tinggi lagi."Apalagi jika nanti serangan semakin meluas ke negara lain di Timur Tengah atau terjadi solidaritas seluruh negara Arab lalu melakukan pemboikotan pasokan minyak. Orang yang sedang marah, apapun akan dilakukan dan tidak lagi pertimbangan rasional," ujar Bambang.Jika pemboikotan minyak Arab itu benar-benar dilakukan maka justru negara-negara industri terkemuka di dunia yang akan terpukul. Negara maju itu akan terlanda krisis ekonomi cukup parah serta terjadi gejolak sosial dalam negeri masing-masing, akibat ledakan pengangguran dalam negeri."Di Indonesia dampaknya tidak akan terlalu signifikan karena kita punya cadangan minyak. Selain itu saat ini kita memang masih dalam kondisi krisis ekonomi dan menghadapi problem pengangguran. Negara maju lebih tidak siap menghadapi kondisi seperti itu dibanding kita yang memang sudah terbiasa," lanjutnya.Ancaman lainnya adalah dalam dampak informasi yang akan mempengaruhi pasar saham. Dampak yang akan timbul akan jauh lebih parah dari dampak Perang Dunia II, karena saat itu pasar saham belum sehebat sekarang.Peran Uni EropaBambang berharap negara-negara maju yang tergabung di Uni Eropa segera berinisiatif mengambil peran menghentikan perang. Sebab semakin lama berperang, kata dia, mereka juga semakin merugi. Ini belum terhitung kerusakan infrastruktur sebagai akibat langsung perang."Sejauh ini Uni Eropa masih terlihat diam, tidak mendukung (Israel) seperti AS tapi juga terkesan tidak setuju dengan arogansi AS. Seharusnya segera mengambil peran. Karena, selain sudah ada Cina, ke depan Uni Eropa harus mampu tampil sebagai penyeimbang kekuatan AS," ungkapnya.
(wiq/)











































