Duit Lecek Lembah Baliem

Duit Lecek Lembah Baliem

- detikNews
Kamis, 03 Agu 2006 14:00 WIB
Duit Lecek Lembah Baliem
Wamena - Mendapat uang kembalian yang kumal atau lecek pasti membuat dongkol. Tak jarang kita minta lembaran itu ditukar dengan yang lebih layak kondisinya atau diganti permen sekalian. Tapi bila Anda berbelanja cenderamata di lembah Baliem, Pengunungan Jayawijaya, dari warga setempat, dua pilihan itu tidak tersedia. Selain tidak menyediakan permen, semua uang kertas di sana kondisi fisiknya amat memprihatinkan. Penyebabnya adalah metode warga menyimpan uang yang terlalu 'rapi'. Yakni di balik rumput ilalang kering yang menjadi alas honai (rumah tradisional Papua), di sela tiang kayu penyangganya atau bahkan di bagian ujung (maaf) koteka. Uang pecahan seribuan atau lima ribuan rupiah itu sendiri merupakan hasil profesi sampingan warga Baliem sebagai 'fotomodel profesional'. Meski hanya tingkat lokal, tapi dari kegiatan ini warga mendapat pemasukan rutin yang relatif cukup untuk ukuran pedalaman. Bagaimana tidak, rata-rata setiap harinya perkampungannya dikunjungi 10 orang turis dan masing-masing dari mereka mengeluarkan uang Rp 5 ribu tiap kali memotret. Maka artinya tiap orang dewasa Baliem mendapat Rp 50 ribu untuk satu kali sesi pemotretan. Setelah dibagai rata ke seluruh warga kampung sukunya, tiap KK mendapat pemasukan sampai Rp 500 ribu per bulan. Belum termasuk dari hasil penjualan cenderamata atau bila suatu ketika ada turis yang ingin menonton pesta bakar babi atau perang-perangan. Apakah uang itu lalu dibelanjakan barang konsumsi? Hanya sebagian kecil. Seperti beli pakaian, mainan anak, sepeda dan pasta gigi -- bukan untuk menggosok gigi tapi membuat ornamen hiasan tubuh. Sementara transaksi dagang hasil bumi pemenuhan kebutuhan pokok yang dilakukan antar warga masih menganut sistem barter. Bila ukuran taraf hidup diukur dari kepemilikan barang elektronik, maka kehidupan di Baliem bisa dikatakan masih primitif. Belum ada aliran listrik di sana. Maka sudah pasti tidak ada pos anggaran belanja VCD bajakan. Lalu ke mana larinya sisa uang warga yang dalam setahun bisa mencapai jutaan rupiah itu? Uang simpanan baru dikeluarkan bila diperlukan membeli babi. Baik dalam gelaran acara adat yang bukan merupakan order turis. Seperti sebagai mas kawin, pergantian kepala suku, kelahiran anak, penghormatan pada arwah leluhur atau hidangan bagi tamu yang diagungkan. Sebelum saat yang belum tentu satu tahun sekali itu tiba, lembaran-lembaran uang ya tetap berada dalam safe deposit boxes ala Baliem di atas. Itu dia yang membuat uang menjadi kusam dan lecek itu. Caption foto:Satu keluarga suku Kurulu bersiap di depan honai untuk menyambut para turis yang berkunjung ke pemukiman mereka di desa Jiwika, Kecamatan Sompaima, Wamena. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads