Para Menteri 'Kuliah' Antikorupsi di Istana Negara
Rabu, 02 Agu 2006 14:27 WIB
Jakarta - Skeptisme dan apatisme masyarakat adalah pukulan bagi upaya pemberantasan korupsi yang tengah dilancarkan pemerintah. Padahal kesuksesan program tersebut amat ditentukan oleh peran aktif seluruh komponen bangsa. Menyadari itu, Presiden SBY mengundang konsultan pemberantasan korupsi tingkat dunia memberi 'pencerahan' dalam acara bertajuk Presidential Lectural on Developing a Strong Anti-corruption System and Good Coorperate Government. Pembicara acara yang digelar di Istana Negara ini adalah Prof. Robert Klitgaard (Rektor Claremont Graduate University, penasihat reformasi ekonomi di 30 negara Asia, Afrika dan Amerika Selatan) dan Bertrand de Speville (Tranparency International dan mantan ketua komisi independen pemberantasan korupsi Hongkong). "Di masyarakat ada anggapan bahwa budaya korupsi telah meluas hingga di luar kontrol dan masalahnya sangat kompleks hingga susah ditangani. Tugas kita mengubah persepsi ini," kata Presiden SBY di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2006). Pada pembicara, Presiden minta tidak ragu-ragu berbagi pengetahuan dan pengalaman lapangan pada para menteri. Diharapkan dengan pemahaman teori, konsep dan praktek pemberantasan korupsi, didapat gambaran cara terbaik yang memadukan pendekatan ekonomi, politik, hukum dan sosial. Seluruh anggota Kabinet Indonesia Bersatu hadir dalam 'perkuliahan' pagi ini. Termasuk juga Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Sutanto dan pimpinan beserta anggota Komisi Pemberantasan Koropsi (KPK). Meski seluruh peserta adalah orang Indonesia, materi 'kuliah' diberikan dalam bahasa Inggris. Beberapa orang menteri nampak mengenakan interpreter headphone untuk mendengarkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Menbudpar Jero Wacik, Mendagri M. Ma'ruf, Menpora Adhyaksa Dault dan Jaksa Agung Abdulrahman Saleh. Sayangnya saat memasuki sesi paling dinanti yaitu tanya jawab, pihak Istana meminta wartawan untuk meninggalkan ruangan. Alasannya sesi ini yang digelar usai Presiden SBY memberikan kata sambutan dan para pembicara mempresentasikan materinya ini berlangsung tertutup. Yah, sayang sekali....
(nrl/)











































