200 Orang dari Luar Libanon Tetap Tak Bisa Imbangi Israel
Rabu, 02 Agu 2006 13:45 WIB
Jakarta - TNI menghargai semangat solidaritas sejumlah ormas yang berniat mengirim anggotanya ke Libanon dan Palestina. Tapi dukungan itu lebih efektif bila yang berangkat institusi resmi negara yang berwenang. "Nggak usahlah. Lebih baik serahkan pada institusi berwenang yang ke sana," ujar Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto yang dicegat wartawan di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2006). Pendapat serupa juga disampaikan oleh Menlu Hassan Wirajuda yang ditemui pada kesempatan yang sama. Menurutnya, simpati masyarakat Indonesia bisa diwujudkan dalam bentuk menggalang bantuan kemanusiaan, sebab itulah yang lebih dibutuhkan oleh warga Libanon dan Palestina saat ini. "Dari segi perimbangan militer, keunggulan Israel tidak bisa dijawab dengan kehadiran 100-200 orang dari luar Libanon," ujarnya. Terhadap kelompok yang ngotot mengirimkan anggotanya ke Libanon dan Palestina, memang tidak bisa dihalangi. Sebab Indonesia menganut sistem imigrasi bebas yang memungkinkan setiap WNI mempunyai paspor, meninggalkan Tanah Air tanpa exit permit, dan pemerintah tidak diperbolehkan mengecek kebenaran negara tujuannya. "Tapi sebagai pemerintah, kita ingatan kehadiran mereka di lokasi konflik bersenjata --kalau itu betul -- juga membahayakan keselamatan mereka. WNI yang di sana sudah kita persiapkan untuk dilakukan penyelamatan. Jangan sampai yang dari luar datang dan merasa aman," imbuh Menlu.
(nrl/)











































