Kambing Bantuan BRR Sakit Mencret dan Ogah Kawin
Selasa, 01 Agu 2006 15:08 WIB
Banda Aceh -
Bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias lagi-lagi menuai masalah. Kali ini masalahnya terjadi di Dusun Mon Mameh Desa Ie hob, Kecamatan Tangan-tangan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Masalah timbul ketika kambing-kambing bantuan BRR yang disalurkan ke desa ini tidak sesuai standar yang sudah disepakati bersama. Selain sakit mata dan mencret, kambing-kambing tersebut terlalu kecil sehingga ogah kawin. Karena itulah, warga menuntut uang pembelian itu dikembalikan pada warga dan kambing-kambing itu akan mereka kembalikan. Padahal, kambing-kambing itu dibeli dengan anggaran harga Rp 700 ribu per ekornya. BRR sendiri menyalurkan bantuan Rp 1 miliar untuk pembelian kambing, pembuatan kandang dan penyediaan pakan. Kambing yang akan dibeli berjumlah sekitar 1.400 ekor. Di Kecamatan Tangan-tangan, ada tujuh kelompok warga yang mendapat jatah pembagian kambing-kambing ini. Masing-masing kelompok mendapat jatah 200 ekor. Dua kelompok berada di Desa Ie Lhob, tiga kelompok di Desa Blang Padang dan sisanya di Desa Padang Bak Jeumpa. Setiap kelompok beranggotakan 25 orang dengan masing-masing orang akan mendapatkan 8 ekor kambing. Sementara, ternak yang baru disalurkan sebanyak 80 ekor untuk sepuluh kelompok di Dusun Mon Mameh. Sedikitnya, akan disalurkan 1.400 ekor kambing. Juru Bicara BRR, Mirza Keumala, pada detikcom, Selasa (1/8/2006) per telepon menegaskan, bantuan kambing-kambing itu memang merupakan proyek BRR. "Tapi pengadaan dan penyalurannya dilakukan oleh kelompok pendamping dari dinas terkait. Kita sangat berniat baik untuk membantu masyarakat dan kita harapkan kelompok pendamping memenuhi standar kambing-kambing yang akan disalurkan," tukasnya. Dinas terkait dalam pengadaan kambing ini adalah Dinas Peternakan Aceh Barat Daya. Untuk kasus ini kata Mirza, sudah diturunkan tim dari BRR. Mirza sendiri mengaku tak habis pikir dengan anggaran Rp 700.000 per ekor yang ditetapkan kelompok pendamping Karena biasanya, harga senilai itu sudah mendapatkan kambing dengan kualitas yang cukup bagus. "Apa kambing terlalu mahal di sana?" ujarnya. Untuk itu, jika warga memang tidak puas, Mirza mempersilakan warga untuk mengembalikan kambing-kambing itu karena mendapatkan kambing yang baik adalah hak warga dan BRR menginginkan bantuan yang diberikan dapat membantu warga. Seperti dituturkan seorang warga yang dilansir Harian Serambi Indonesia, kambing-kambing bantuan itu belum mengenal lawan jenis, sehingga dipastikan akan lama sekali untuk beranak. "Apalagi yang disalurkan banyak yang sakit mata dan mencret. Kami terima sudah sakit, jadi mau kami kembalikan saja," ujar salah seorang warga yang tak mau disebutkan namanya. Masih menurut harian lokal tersebut, Kadis Peternakan Abdya, Ir.Zoel Helmi Haridhy mengatakan, pembelian kambing-kambing itu merupakan kesepakatan pengurus kelompok ternak, sedangkan pihaknya hanya membimbing. Dan dana pembelian kambing juga langsung ditransfer ke rekening masing-masing kelompok. Sementara, dalam kesepakatan awal, untuk kambing betina yang disalurkan memiliki tinggi sekitar 47 cm sampai 51 cm dan kambing jantan 51cm sampai 55cm. Sementara kambing yang diterima warga, untuk kambing betina memiliki tinggi 42cm-47 cm dan kambing jantan setinggi 40 cm-43cm. Harga untuk ukuran kambing-kambing seperti ini ditaksir hanya berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































