Ketika Gajah Masuk Kampung

Ketika Gajah Masuk Kampung

- detikNews
Senin, 31 Jul 2006 11:34 WIB
Ketika Gajah Masuk Kampung
Pidie - Masyarakat Kecamatan Tiro, Pidie, resah. Sudah beberapa bulan belakangan ini kawanan gajah liar memasuki perkampungan mereka. Tak hanya kebun dan sawah yang dirusak. Lumbung padi pun tak luput dari gangguan hewan-hewan berbelalai ini. Inilah sedikit dampak dari maraknya aktivitas illegal logging yang tengah terjadi di hutan-hutan Aceh. Gajah umumnya takut suara bising atau gemuruh. Suara mesin gergaji mesin yang mengaum di sekitar habitat mereka membuat para gajah terpaksa menyingkir, mencari tempat yang lebih aman dan tenang. Demikian dikatakan Kepala Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) NAD, Andi Basrul, pada wartawan di sela-sela pemindahan dua ekor gajah liar yang berhasil ditangkap di Tiro. Tak heran jika kemudian kawanan gajah liar turun ke perkampungan. "Selain lebih tenang, ada tersedia makanan yang enak-enak. "Selain suara mesin gergaji, saat ini tengah musim angin dan hujan. Gajah-gajah ini biasanya takut tertimpa kayu," ujar Andi Basrul. Karena itulah beberapa pekan terakhir ini kawanan gajah liar semakin sering masuk kampung dan meresahkan warga. "Anak-anak jadi takut bermain di luar rumah. Karena bisa saja tiba-tiba gajah itu sudah ada di ladang," tutur Aminah, seorang warga Tiro, pada detikcom. Keresahan warga ini kemudian disampaikan Camat Tiro, Jufrizal, ke BKSDA NAD. Tim BKSDA kemudian menurunkan 20 pawang dan pemelihara gajah ke Tiro. "Semula para penangkap gajah ini agak takut turun ke Tiro. Maklumlah semasa konflik wilayah ini boleh dibilang kurang aman. Tapi setelah mereka turun, mereka bisa rasakan sendiri bahwa di sini sudah aman dan damai," katanya. Tak heran jika proses penangkapan gajah liar yang masuk ke perkampungan segera rampung. Dua ekor gajah liar ditangkap dalam satu pekan di Tiro. Kedua ekor gajah jantan itu diperkirakan berumur 20-an tahun. Untuk menangkapnya, dua gajah jinak yang selama ini dirawat di Pusat Pemeliharaan Gajah, Sare, Aceh Besar, Medang dan Sadam, diturunkan. Kedua gajah ini diturunkan sebagai pemancing untuk memudahkan penangkapan.Kedatangan gajah-gajah ini ke Tiro, membuat lokasi tempatnya ditambatkan menjadi kawasan wisata mendadak. Orang-orang dari kecamatan lain datang berduyun-duyun. Diakui Andi Basrul, penangkapan sebenarnya adalah langkah terakhir. Menurutnya, lebih baik kawanan gajah liar ini dihalau kembali ke habitatnya. Cara-cara tradisional seperti membakar api unggun, membuat keributan sudah dilakukan untuk mengusir kawanan gajah liar ini, tapi ternyata tidak berhasil. Gajah-gajah liar itu tetap tidak mau kembali ke habitatnya. Penangkapan gajah ini sebenarnya hanya akan menambah beban biaya. Sebab sampai saat ini, biaya perawatan gajah hanya diberikan Departemen Kehutanan sebesar Rp 16.000 per hari. Padalah menurutnya, perawatan gajah idealnya memerlukan dana Rp 125.000 per hari. Penangkapan ini juga sebenarnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk obat bius saja misalnya, sekali suntik dibutuhkan dana sedikitnya Rp 5 juta. Belum lagi obat-obatan antibiotik bagi si gajah. Selain di Pidie, gangguan kawanan gajah liar ini juga terjadi di Paya Bakong, Nisam, Simpang Keuramat, Aceh Utara dan di Trumon Timur, Aceh Selatan. Di kawasan-kawasan ini, kawanan gajah liar ini juga merusak rumah-rumah penduduk. Selain gangguan gajah liar, di beberapa kawasan seperti Aceh Besar, juga terjadi gangguan harimau liar. Saat ini ada sekitar 34 ekor gajah di Pusat Pemeliharaan Gajah di Sare, Aceh Besar. Sebanyak 8 ekor lagi melakukan pertunjukan ke beberapa kota di Indonesia, demi menambah ongkos perawatan. Sementara, para pemelihara gajah berjumlah sekitar 40 orang. Sebelum memanasnya konflik di Aceh, terdapat juga pusat pelatihan gajah di Aceh Utara. Tetapi akibat konflik yang berkepanjangan, gajah-gajah ini diungsikan ke Sumatera Utara. Dan sampai sekarang, pusat pelatihan gajah di Aceh Utara tidak berfungsi lagi. Diperikirakan, populasi gajah liar seluruh Aceh saat ini mencapai 500 ekor. Jumlah ini diperkirakan akan menyusut jika illegal logging terus terjadi tanpa bisa ditanggulangi. Semut saja kalau diganggu sarangnya akan marah. Apalagi gajah," tandas Andi Basrul. Illegal Logging Biang Kerok Maraknya pembalakan liar di Pidie memang diakui Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Pidie, M.Amin Affan. "Kami kesusahan menangkap mereka. Karena tidak ada informasi dari warga di sekitar hutan. Mereka juga kalau menurunkan kayu itu tengah malam. Jadi kami kesusahan sekali," terangnya. Selain di Tiro, illegal logging juga terjadi di kawasan hutan di Kecamatan Tangse dan Ulee Glee. Masyarakat di sekitar hutan disebutkannya kurang berperan dalam mencegah aksi illegal logging yang bukan saja mengganggu habitat hewan-hewan yang ada di hutan, tapi juga lingkungan secara keseluruhan. Andi Basrul mengungkapkan, kesulitan utama yang dihadapi pihaknya dalam memberantas aksi illegal logging ini adalah karena mereka tidak bersenjata. "Susah sekali kita jadinya karena kita tidak punya senjata," ungkapnya agak diplomatis tanpa mau menyebut siapa pihak-pihak yang berada di balik aksi illegal logging yang semakin menggila pasca-tsunami ini. Salah satu langkah yang cukup efektif dalam memberantas pembalakan liar, menurut Andi Basrul, adalah dengan memberdayakan penduduk di sekitar hutan. "Jadi mereka yang memberikan informasi, bisa diajak untuk menjaga hutan di samping kita tetap memikirkan apa yang bisa mereka lakukan untuk tetap dapat bertahan hidup tanpa mengandalkan hasil dari menebang kayu," bebernya. Beberapa sumber detikcom mengungkapkan, illegal logging akhir-akhir ini sangat marak terjadi di beberapa kawasan di Aceh Besar. Belum diketahui secara pasti apakah kayu-kayu tersebut dijual kepada para pelaku pembangunan rumah bantuan bagi korban tsunami. Beberapa waktu lalu, sebuah LSM asing yang membangun rumah korban tsunami diketahui menggunakan kayu-kayu hasil illegal logging. Oknum-oknum aparat TNI/Polri juga diduga ikut terlibat dalam kejahatan ini.Foto:Pawang dibantu 2 gajah jinak, mengikat seekor gajah liar. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads