Di Indonesia, Cuma Orang Kaya yang Tidak Krisis Lagi
Minggu, 30 Jul 2006 16:54 WIB
Jakarta -
Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rendah. Jumlah pengangguran juga sangat tinggi. Sulit dikatakan Indonesia sudah tidak krisis lagi.Hal tersebut diungkapkan anggota Komisi XI DPR, Drajad Wibowo kepada detikcom melalui sambungan telepon, Minggu (31/7/2006), mengomentari pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang menyatakan Indonesia telah terlepas dari krisis ekonomi.Saat membuka konsolidasi Eksekutif dan Legislatif Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dalam sambutannya Kalla mengatakan, saat ini pendapatan perkapita Indonesia sebesar US$ 1.500. Angka ini lebih besar dibandingkan saat Indonesia dilanda krisis moneter beberapa tahun lalu, yakni sebesar US$ 700."Pak Kalla terlalu menyederhanakan persoalan. Pendapatan perkapita bukan satu-satunya indikator bahwa Indosesia telah terlepas dari krisis. Banyak negara lain yang pendapatan perkapitanya lebih tinggi dari itu, tapi masih krisis," kata Drajad.Terlebih jika pendapatan perkapita itu dikaitkan dengan purcashing power parity (paritas daya beli) masyarakat Indonesia. Pada saat krisis moneter melanda Indonesia, paritas daya beli rakyat Indonesia mencapai US$ 2.200.Menurut Drajat, banyak faktor lain yang juga harus diperhatikan seperti pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan jumlah pengangguran. Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kecil, sekitar 5 persen. Padahal dulu pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 6 sampai 8 persen."Sedangkan angka pengangguran kita pada tahun 2005 mencapai 10,4 persen. Ini jumlah tertinggi sepanjang sejarah Indonesia," jelas Drajad.Padahal, kenaikan angka pendapatan perkapita itu seharusnya diikuti dengan turunnya jumlah pengangguran. Jika tidak, ini menunjukkan ada ketimpangan pemerataan pertumbuhan ekonomi yang sangat besar.Artinya, sambung Drajad, kenaikan pendapatan perkapita ini hanya dialami oleh golongan tertentu, seperti elit perusahaan, elit politik dan pekerja sektor keuangan. Sementara rakyat lainnya masih banyak yang menjadi pengangguran."Jadi hanya orang-orang kaya saja yang sudah tidak krisis lagi," tutur Drajad menutup pembicaraan.
(djo/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































