13 Pasang Dinikahkan Massal
Minggu, 30 Jul 2006 11:24 WIB
Jakarta - Pernikahan akhirnya benar-benar membawa ketenangan bagi Riban (80) saat penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) Jatinegara menikahkan dirinya dengan Nuryati (34). Selama lebih dari 12 tahun menikah di bawah tangan, kebahagiaan Riban dan Nuryati, serta 3 orang anaknya tidak diakui negara.Riban dan Nuryati adalah pasangan tertua di antara 12 pasangan lain yang dinikahkan massal di Musala Nurul Iman, di depan kantor Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Jl Warung Asem 14, Rawa Bunga, Jatinegara. Kemiskinan selama ini telah membelenggu keinginan mereka menikah secara resmi.Kepada detikcom, Riban yang kaki kirinya telah diamputasi bercerita, selama ini kegelisahan menyelimuti dirinya. Ketiga anaknya yang saat ini masih berusia kanak-kanak akan suram masa depannya, karena status pernikahan mereka yang tidak resmi.Ditambah lagi penderitaan sejak dirinya tidak bekerja tahun 2003 silam. Sementara Nuryati hanya mendapat penghailan dari pekerjaannya sebagai buruh cuci.Percintaan Riban dan Nuryati berawal saat keduanya bertemu di permulaan tahun 1994. Benih-benih asmara yang tumbuh di antara keduanya membuat keduanya berkomitmen melanjutkan ke jenjang yang lebih serius dan berikrar menjalani hidup bersama di hadapan seorang kiai."Istri saya yang pertama yang saya nikahi tahun 1961 tidak punya anak juga. Akhirnya bertemu Nuryati di dekat tempat kerja saya, langsung saya ajak nikah," ujar Riban yang hingga tahun 2003 bekerja di Koramil Jatinegara.Sementara Buyung (18) dan Rini (18) menjadi pasangan termuda. Keduanya sejak tahun 2004 telah tinggal satu atap di rumah orang tua Buyung, meski pernikahan belum menyatukan keduanya. Disaksikan Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung, Buyung dan Rini pun mengikrarkan janji sehidup sematinya.Keduanya telah berkenalan sejak sama-sama masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Orang tua mereka yang memahami rasa di antara Buyung dan Rini pun meminta mereka segera menikah. Namun lagi-lagi biaya menjadi kendala niatan mereka.Adanya pernikahan massal ini membuat keduanya semakin tenang dalam menjalani kehidupan. Apalagi saat ini Rini tengah berbadan dua."Biaya nikah mahal, orang tua nyuruh kita cepet nikah. Tapi karena tidak ada uang, sejak 2004 kita tinggal bersama, orang tua juga setuju," tutur Rini berkaca-kaca.Alunan marawis mengalun dalam upacara ini. Ibu-ibu majelis taklim Jatinegara pun melantunkan salawat badar. Beberapa di antara mereka mengungkapkan perasaan harunya."Saya senang sekali sampai pengen menangis. Dua tahun kami sudah membina rumah tangga di bawah tangan. Dulu kami tidak ke KUA karena tidak ada biaya," ujar Ratih (36) yang menikah dengan Heru (28).Gaspar Bhisa dan Bernadeta, salah satu pasangan beragama Katolik. Keduanya dinikahkan terlebih dahulu sebelum 12 pasang lainnya oleh Kantor Catatan Sipil Katinegara. Seorang wartawan stasiun tv pun menjadi saksi pernikahan mereka.Sekjen Repdem Budiman Sudjatmiko, yang menjadi penyelenggara acara menceritakan, untuk sepasang pengantin, Repdem menyediakan biaya Rp 105.000 untuk biaya pernikahan, ditambah lagi biaya tetek bengek seperti rias dan baju pengantin sebesar Rp 500.000 untuk setiap pasang pengantin."6 pasang lagi akan kita nikahkan hari Rabu karena masih ada urusan yang belum selesai," sebut Budiman.
(fjr/)











































