Toleransi dan Deradikalisasi Perlu Dikuatkan untuk Cegah Terorisme

ADVERTISEMENT

Toleransi dan Deradikalisasi Perlu Dikuatkan untuk Cegah Terorisme

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 08 Des 2022 06:59 WIB
Narapidana tindak pidana teorisme mencium bendera Merah Putih usai mengucap ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Aula Sahardjo, Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/4/2021). Sebanyak 34 narapidana tindak pidana terorisme mengikuti ikrar setia kepada NKRI sebagai bentuk implementasi hasil akhir program deradikalisasi serta pengikat tekad dan semangat untuk menegaskan bersedia kembali membangun kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI. ANTARA FOTO/Humas Kemenkumham/Arf/aww.
Eks napi tindak pidana terorisme mencium bendera Merah Putih usai mengucap ikrar setia kepada NKRI di Lapas Gunung Sindur, Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu (ARIF FIRMANSYAH/Antara Foto)
Jakarta -

Aksi bom bunuh diri terjadi di Polsek Astana Anyar, Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar). Seorang anggota polisi gugur dan sejumlah lainnya terluka akibat insiden tersebut.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pelaku bom bunuh diri di Mapolsek Astana Anyar bernama Agus Sujatno alias Agus Muslim. Agus merupakan mantan narapidana kasus bom Cicendo, Jawa Barat, dan telah dihukum penjara selama 4 tahun di Lapas Nusakambangan.

Rampai Nusantara (RN) menyampaikan rasa dukacita mendalam atas gugurnya seorang anggota Polri bernama Aiptu Sofyan dan juga kepada para korban luka-luka yang sedang mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.

"Semoga personel Polri yang gugur mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan YME dan para korban yang sedang menjalani pengobatan agar segera diberikan kesembuhan serta bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan," kata Ketum RN Mardiansyah, Rabu (7/12/2022).

Dia juga mengutuk keras segala bentuk terorisme yang terjadi termasuk serangan bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar Polrestabes Bandung yang terjadi pada Rabu (7/12).

"Segala bentuk terorisme tidak dapat dibenarkan dan kami mengutuk keras, semoga tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini ke depannya karena tentu banyak orang tak bersalah menjadi korban atas perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini," ucapnya.

Ketua Setara Institute, Hendardi, mengatakan peristiwa bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar telah menyebarkan pesan bahwa terorisme adalah ancaman laten yang kapanpun bisa terjadi dan dipicu oleh banyak variabel. Selain itu, lanjutnya, banyak faktor yang bisa jadi tidak berhubungan dengan sasaran tindakan kejahatan itu.

"Satu hal yang pasti bahwa variabel statis, yakni ideologi intoleran dan radikal, telah melekat pada aktor pelaku atau kelompoknya," kata Hendardi.

Setara Institute juga mengutuk keras peristiwa bom bunuh diri dan berbelasungkawa pada para korban. Setara Institute juga mendorong institusi Polri mengungkap tuntas peristiwa ini hingga diperoleh gambaran jejaring yang melingkupinya, guna kepentingan penanganan yang lebih akuntabel.

Menurutnya, jika pelaku pernah dipenjara karena kasus terorisme, maka pesan utama peristiwa ini juga ditujukan pada kerja pascapenanganan tindak pidana terorisme, yakni pemasyarakatan dan deradikalisasi. Menurutnya, BNPT perlu memperkuat kinerja deradikalisasi dan dengan dukungan dan sinergi bersama pihak lain.

"Early warning dan early respons (EWES) system yang dikembangkan di daerah belum banyak membantu mencegah recovery kelompok teroris untuk melakukan tindakan serupa. Padahal sederet regulasi pemerintah telah diterbitkan, termasuk berbagai rencana aksi mencegah terjadinya kekerasan ekstremis," katanya.

Dia mengatakan BNPT dan Polri bisa mengefektifkan berbagai regulasi dan inisiasi untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah. Dia mengatakan pencegahan terorisme juga perlu dilakukan dengan meningkatkan nilai toleransi di masyarakat.

"Jika kerja hulu pencegahan intoleransi dan kerja hilir deradikalisasi tidak sinergis, maka potensi terorisme akan terus berulang. Dan sebagai institusi terdepan, Polri selalu akan menjadi sasaran utama tindakan kekerasan dan political revenge dari kelompok pengusung aspirasi politik intoleran," ujarnya.

Dia mengatakan upaya mengatasi kekerasan ekstremis yang berulang perlu dilakukan sinergis antara berbagai institusi negara. Menurutnya, pencegahan intoleransi dan dan deradikalisasi harus mendapatkan prioritas.

"Pencegahan di hulu, yakni menangani intoleransi adalah salah satu cara menangani persoalan keberulangan terorisme," tuturnya.

(jbr/jbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT