Antisipasi Tsunami, Warga Malang Lakukan Simulasi Penyelamatan
Kamis, 27 Jul 2006 16:03 WIB
Malang -
Mengantisipasi terjadinya bencana gempa dan gelombang tsunami di daerah pesisir selatan, Satuan Koodinator Penanggulangan Bencana Pemerintah Provinsi Jatim mengadakan pelatihan simulasi penanggulangan bencana. Masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir Kabupaten Malang, Jawa Timur mengikuti kegiatan ini. "Semoga dengan adanya pelatihan ini, penduduk yang tinggal di sekitar pantai tidak panik apabila menghadapi bencana yang sesungguhnya," kata Camat Sumbermanjing Wetan, Suprihadiono kepada wartawan saat ditemui d ilokasi pelatihan, Kamis (27/7/2006). Pelatihan menghadapi bencana gempa dan gelombang tsunami ini dikonsentrasikan di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Selain diikuti sekitar 125 warga yang tinggal di sekitar pesisir, pelatihan ini juga melibatkan Palang Merah Indonesia (PMI), Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), ORARI dan anggota Perlindingan Masyarakat (LINMAS) Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Pelatihan penaggulangan bencana kali ini selain ditujukan para warga yang tinggal di sekitar pesisir pantai, juga diikuti oleh warga enam Kecamatan rawan bencana yang berada di Kabupaten Malang. Ketujuh Kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Ampel Gading, Kecamatan Tirtoyudo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kecamatan Gedangan, Kecamatan Gedangan, Kecamatan Dono Mulyo, dan Kecamatan Bantar. Simulasi pelatihan penanggulangan bencana gempa dan gelombang tsunami ini memberikan gambaran kepada para warga, apabila bencana tersebut terjadi, maka seluruh warga diminta untuk secapatnya menyelamatkan diri menuju ke daerah dataran yang lebih tinggi. Selain itu, Satuan Koodinator Penanggulangan Bencana Pemerintah Provinsi Jatim juga memberikan tanda-tanda apabila gelombang tsunami akan terjadi. "Tanda-tanda tsunami terjadi, apabila selesai gempa, air laut menjadi surut secara tiba-tiba. Dan apabila itu terjadi, warga harus cepat-cepat mengungsi ke bukit atau ke daerah yang mempunyai dataran lebih tinggi," jelas Suprihadiono.
(asy/)










































