Mendagri: Jokowi Ingin Penanganan Inflasi Sama dengan Pandemi COVID-19

ADVERTISEMENT

Mendagri: Jokowi Ingin Penanganan Inflasi Sama dengan Pandemi COVID-19

Anggi Muliawati - detikNews
Senin, 05 Des 2022 09:29 WIB
Jakarta -

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengungkapkan penanganan inflasi harus sama dengan mekanisme pandemi COVID-19. Tito mengatakan hal itu sesuai arahan dari Presiden Joko Widodo.

Hal itu disampaikan Tito dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi dan percepatan realisasi belanja daerah di kantor Kemendagri, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2022). Rapat tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Badan Pusat Statistik Margo Yuwono, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo serta kepala daerah provinsi dan kota/kabupaten se-Indonesia.

"Bapak Presiden ingin agar penanganan inflasi ini ditangani dengan mekanisme seperti pandemi, yakni dibahas evaluasi sehingga kita semua tetap aware, tetap peduli," kata Tito dalam sambutannya.

Menurutnya, dengan penanganan yang sama dengan pandemi COVID-19, semua pihak akan menjadi fokus terhadap inflasi. Dia menyebut kenaikan inflasi akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

"(Kita) Jadi fokus, jadi skala prioritas, ini menyangkut masalah hidup rakyat, kenaikan harga barang jasa akan sangat langsung berdampak kepada rakyat," ujarnya.

Rapat pengendalian inflasi dipimpin oleh Mendagri Tito Karnavian. (Anggi Muliawati/detikcom)Rapat pengendalian inflasi dipimpin oleh Mendagri Tito Karnavian. (Anggi Muliawati/detikcom)

"Oleh karena itu perlu terus kita kendalikan, apalagi di tengah situasi global yang mungkin ditahun ke depan juga tidak ringan, dan berbagai negara pengamat dunia, lembaga ini menyatakan bahwa Indonesia salah satu yang memiliki pondasi keuangan yang cukup kuat, sehingga mudah-mudahan kita bisa salah satu negara yang kuat untuk bertahan," sambungnya.

Lebih lanjut, Tito mengungkapkan saat ini inflasi Indonesia berada di angka 5,42 persen. Dia menyebut angka tersebut turun jika dibandingkan pada Oktober 2022 yang berada di angka 5,71 persen.

"Ini saya kira semua mengikuti berita, dari 5,95 persen, turun ke 5,71 persen di Oktober, November turun lagi ke 5,42 persen, ini betul-betul tidak gampang. Dengan angka ini di G20, 20 negara ekonomi terbesar kita nomor dua terendah setelah Jepang, Jepang 3,7 persen. 18 Negara G20 baik Amerika Eropa semua di atas angka kita," tuturnya.

(dnu/dnu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT