Warga Pantai Bantul Inginkan Alat Pemantau Tsunami
Rabu, 26 Jul 2006 16:26 WIB
Bantul - Warga di sepanjang pesisir pantai selatan di Kabupaten Bantul menginginkan adanya alat pemantau tsunami atau early warning system di sekitar pantai. Sebab sampai saat ini, belum ada satupun alat terpasang dan warga hanya mengandalkan pemantauan melalui pengamatan mata secara visual.Sampai saat ini beberapa warga di kawasan Pantai Parangtritis, Depok, Samas dan Pandansimo Bantul mengaku masih trauma dengan peristiwa tsunami pada hari Senin 17 Juli lalu. Waktu itu, warga tidak tahu bila akan terjadi gelombang pasang yang cukup besar.Hal itu diungkapkan oleh Suroyo (50), Ketua Tim SAR Parangtritis Kecamatan Kretek Bantul kepada detikcom, Rabu (26/7/2006)."Harusnya ada alat yang dipasang, entah itu di Parangtritis, Parangkusumo, Depok atau Samas untuk memantau ada tidaknya tsunami," katanya.Menurut dia, bila mengandalkan pemantauan visual oleh anggota tim SAR akan sangat terbatas. Meski untuk saat ini sangat berguna dan membantu sekali terutama di pantai-pantai yang banyak dikunjungi wisatawan. Namun untuk lebih baiknya tetap harus ada alat peringatan dini bila akan ada gelombang pasang atau tsunami.Dia mengatakan sistem yang berjalan saat ini, semua anggota Tim SAR Parangtritis yang piket di posko harus selalu memantau perkembangan gelombang setiap waktu. Selain itu, tim SAR juga mengawasi semua wisatawan yang sedang bermain air di pinggir pantai. Apabila ada perubahan gelombang atau air laut surut warga sekitar diminta untuk waspada dan segera menjauhi laut. Pengeras suara juga kita pasang di dekat posko hingga bisa menjangkau pemukiman yang ada di sebelah utara. Sedang untuk komunikasi dengan wilayah lain seperti Pantai Parangkusumo, Depok, Samasdan sekitarnya menggunakan peralatan handy talkie (HT). "Alat yang kita punyai seperti itu, da itu sudah digunakan sejak tahun 2005 ketika ada berita angin/badai dari Australia akan menuju selatan Jawa," katanya.Hal senada juga dikemukakan oleh Ketua Kelompok Nelayan Samas, Rudjito, saat terjadi tsunami warga hanya melihat adanya perubahan air laut yang surut hingga 500-an meter. Begitu mengetahui air surut warga langsung berteriak memberitahu warga lain untuk menyelamatkan diri. Tidak lama dari air surut kemudian muncul gelombang pasang menghantam pinggir pantai hingga 150-an meter. "Untung saja, saat kejadian Senin sore itu sudah banyak warga dan wisatawan yang pulang sehingga tidak memakan korban. Tapi warga yang lari kebanyakan takut semua," katanya.Rudjito yang saat terjadi tsunami sempat terseret arus belasan meter ketika berada di muara Sungai Opak saat menjala ikan. Namun berhasil menyelamatkan diri dan tidak terbawa hingga ke tengah laut. "Saya kira pemerintah perlu memasang alat di sekitar sini (Samas-red), karena warga benar-benar membutuhkan sekali, tapi kalau pakai alat sekarang ini masih terbatas," katanya.
(jon/)











































