Ribuan Anak TKI di Sabah Terlantar
Rabu, 26 Jul 2006 16:23 WIB
Yogyakarta - Diperkirakan terdapat 500-an ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) beserta keluarganya yang bekerja di negara bagian Sabah Malaysia. Sebanyak 25 ribuan anak TKI tidak mendapatkan pendidikan yang layak atau terlantar pendidikannya.Hal itu diungkapkan Rektor Universitas Malaysia Sabah (UMS) Datuk Mohammad Noh Dalimin saat berdialog dengan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Sofian Effendi di kantor rektor di Gedung Pusat Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (26/7/2006). Menurut Mohammad Noh, terlantarnya pendidikan anak keluarga TKI itu disebabkan karena kondisi perekonomian mereka yang tidak mencukupi. Mereka tidak mempunyai uang yang cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dia juga mengaku tidak habis pikir mengapa mereka juga membawa keluarganya ke Malaysia. Padahal Undang Undang di negaranya melarang hal tersebut. "Undang-undang di Malaysia jelas menyebut orang yang bekerja di Malaysia tidak boleh membawa family (keluarga). Tetapi realitasnya mereka membawa serta keluarganya. Ini yang mengakibatkan muncul banyak problem," kata dia. Menurut dia, karena ada aturan seperti itu, keluarga para TKI tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya di Malaysia. Setiap hari di jalanan Sabah banyak dijumpai anak-anak kecil yang seharusnya bersekolah, tapi tidak bersekolah. "Meraka hanya bermain di jalanan. Tidak tahu mereka itu anak siapa," ujar dia. Dia mengingatkan seharusnya pemerintah Indonesia tanggap terhadap masalah seperti ini dan mencarikan solusinya. Salah satunya perlu dipikirkan untuk mendirikan sekolah khusus buat anak-anak TKI. Sekolah yang khusus anak TKI memang belum ada di Malaysia. Yang ada hanya sekolah untuk anak Indonesia khususnya anak pejabat kedutaan di Kuala Lumpur.Namun bila anak-anak itu ditampung di sekolah Malaysia juga tidak sesuai dengan budaya mereka. Selain itu, bila mereka harus sekolah bersama anak Malaysia juga tidak bisa karena sering pulang kampung dalam waktu lama bersama orangtua. "Ini harus ada penyelesaian. Kalau tidak akan muncul masalah sosial di masa datang," kata Noh.
(asy/)











































