Bamsoet Sebut Pondasi yang Kuat Bikin Bangsa Tidak Goyah dari Ancaman

ADVERTISEMENT

Bamsoet Sebut Pondasi yang Kuat Bikin Bangsa Tidak Goyah dari Ancaman

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 01 Des 2022 07:58 WIB
Ketua MPR Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan dalam kehidupan demokrasi, persatuan tidak seharusnya dimaknai sebagai keseragaman yang bersifat simbolis dan atributif. Melainkan pada kesatuan paradigma dan visi kebangsaan.

Gagasan ini mengedepankan konsep wawasan kebangsaan, sebagai cara pandang yang bersifat holistik, mampu melihat setiap persoalan dari berbagai sudut pandang, dengan tetap menjadikan persatuan dan kesatuan bangsa sebagai dasar pijakan.

Bamsoet menuturkan upaya merawat kemajemukan Indonesia harus dilandasi oleh kesadaran keberagaman yang dimiliki adalah fitrah kebangsaan yang harus dijaga bersama.

Di sisi lain, kebersamaan sebagai sebuah bangsa juga harus ditopang oleh pondasi yang kuat agar tidak mudah goyah oleh berbagai potensi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

"Dalam konteks ke-Indonesiaan, pondasi tersebut mewujud pada sikap tenggang rasa (tepa selira) dan semangat gotong royong," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (1/12/2022).

Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat melakukan Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada 250 anggota Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), kemarin.

Menurut Ketua DPR Ke-20 itu, sikap tepa selira adalah upaya menjaga perasaan, menempatkan situasi dan kondisi diri pada situasi dan kondisi yang dialami orang lain, sebagai cerminan sikap penghargaan dan penghormatan terhadap orang lain.

Sedangkan gotong royong adalah warisan kearifan lokal yang telah membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang mengedepankan kerja sama, tolong-menolong, bahu-membahu, dengan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Ketua Umum IMI ini mengatakan kedua pondasi tersebut hanya akan benar-benar bermakna, ketika dimanifestasikan dalam tindakan nyata, dan tidak hanya berhenti pada sebatas ide dan gagasan.

"Dalam kaitan ini, saya mengapresiasi PSMTI yang telah mengaktualisasikan sikap tepa selira dan gotong royong tersebut dalam berbagai aksi sosial dan bantuan kemanusiaan," tutur Bamsoet.

Bamsoet mengungkapkan di masa pandemi PSMTI Peduli hadir memberikan bantuan bagi masyarakat yang terdampak pandemi. Demikian juga ketika terjadi bencana alam seperti gempa bumi Cianjur, PSMTI Peduli juga hadir di tengah-tengah korban bencana alam untuk memberikan bantuan kemanusiaan.

Bamsoet mengungkapkan seiring perkembangan zaman dan modernitas peradaban, upaya merajut kebersamaan dalam keberagaman masih dihadapkan pada berbagai tantangan.

Khususnya pada aspek ideologis, karena masalah-masalah patogenik yang terkait dengan ideologi negara, pada umumnya berangkat dari dua isu utama.

Pertama, kelemahan dalam merawat dan mentransformasikan ideologi kebangsaan, dari mulanya rumusan-rumusan ideal abstrak, menjadi praktik-praktik kolektif kenegaraan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. Kedua, ketidakmampuan mencegah infiltrasi narasi dan gerakan kontra ideologi negara, dalam berbagai aspek dan dimensinya.

Untuk itu ditegaskan, harus diakui, ada semacam kealpaan dalam konteks tersebut. Kealpaan inilah yang membuat kelompok-kelompok tertentu mudah mengintrusi dunia pendidikan, kelembagaan sosial kemasyarakatan, dan kelembagaan negara, dengan paham, ideologi dan doktrin keagamaan eksklusif yang menebarkan ancaman terhadap negara Pancasila.

"Oleh karena itu, kita tidak boleh sedikitpun mengendurkan semangat kolektivitas dalam membangun kebersamaan dan merawat persatuan, dengan merangkul segenap komponen bangsa," kata Bamsoet.

"Jika kita merujuk pada fakta sejarah, kunci sukses perjuangan menuju Indonesia merdeka, adalah adanya gerakan kebangsaan yang masif dan inklusif, melibatkan seluruh elemen bangsa, tidak terkecuali etnis Tionghoa, yang telah berasimilasi dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia," sambungnya.

Turut hadir di acara itu, Ketua Umum PSMTI Wilianto Tanta dan Ketua Penyelenggara Henry Husada.

Simak juga 'Bamsoet Minta Sistem Demokrasi RI Dievaluasi':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT