Beredar Selebaran dan SMS Isu Gempa di Bali

Beredar Selebaran dan SMS Isu Gempa di Bali

- detikNews
Selasa, 25 Jul 2006 14:40 WIB
Denpasar - Isu gempa tidak hanya melanda warga Jakarta. Masyarakat Bali juga diresahkan oleh isu akan terjadi gempa dan tsunami. Isu ini menyebar melalui selebaran dan SMS.Selebaran akan terjadi gempa dan tsunami di Bali diterima oleh sejumlah pelajar SD di kota Denpasar, seperti pelajar SD V Padang Sanbian. Mereka mendapat selebaran pada saat jam sekolah. Selebaran tersebut kemudian difotokopi dan disebar ke teman-teman.Alhasil, selebaran itu sampai ke pasar yang berada di kawasan Padang Sanbian. Dan dengan cepat, informasi tersebut menyebar ke warga kota Denpasar.Informasi yang diperoleh detikcom, Selasa (25/7/2006), isi selebaran itu berbahasa Indonesia campur bahasa Bali. Berikut isi selebaran setelah diterjemahkan seluruhnya ke bahasa Indonesia:"Berdasarkan wahyu dari Dewa Gunung Agung, gempa akan menimpa Pulau Bali dari bulan gelap 25 Juli 2006 sampai bulan gelap berikutnya atau selama 35 hari. Gempa terjadi pada sore hingga petang.Untuk mengurangi dampak korban, masyarakat Bali yang percaya agar melaksanakan upacara di pura keluarga, dengan sarana 3 pucuk bunga putih. Masyarakat diharapkan menghaturkan 7 butir telor bebek dan sesaji. Disarankan melakukan persembahyangan hari ini dilakukan di pura keluarga dari pukul 09.00-01.00 WIB dinihari."Selebaran itu menyebut identitas lengkap pengirim, yakni Anak Agung Indra Kusuma dan ada nomor handphone. Namun ketika nomor tersebut dihubungi, selalu nada sibuk.Setelah mendapat selebaran tersebut, guru SD V Padang Sanbian memulangkan seluruh muridnya. Bahkan sejumlah warga percaya dengan isu tersebut dan segera membeli sesaji di pasar.Sementara itu, Gubernur Bali Made Beratha mengaku juga mendapat SMS tentang akan adanya gempa di Bali. Ia mengimbau agar masyarakat tidak termakan isu tersebut, sebab gempa tidak bisa diramalkan."Kemarin saya mendapat SMS, pukul 11.00 WIB akan ada gempa. Wah saya tidak percaya. Tapi sebagai umat yang beragama saya tetap melakukan upacara, agar tetap selamat," ujar Made Beratha. (jon/)



Berita Terkait