Geliat Ekonomi dari Sea Farming di Pulau Panggang Kepulauan Seribu

ADVERTISEMENT

Geliat Ekonomi dari Sea Farming di Pulau Panggang Kepulauan Seribu

Elvan Sutrisno - detikNews
Sabtu, 26 Nov 2022 17:44 WIB
Sea Farming yang diimplementasikan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu sejak 2006 telah memproduksi sebanyak 22,3 ton ikan kerapu dengan nilai mencapai Rp 2,97 miliar. (dok Istimewa)
Foto: Sea Farming yang diimplementasikan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu sejak 2006 telah memproduksi sebanyak 22,3 ton ikan kerapu dengan nilai mencapai Rp 2,97 miliar. (dok Istimewa)
Jakarta -

Sea Farming merupakan sistem pengelolaan perairan laut dangkal berbasis masyarakat. Sea Farming telah diimplementasikan di Kelurahan Pulau Panggang Kabupaten Kepulauan Seribu dari tahun 2006 hingga sekarang.

Konsep tersebut telah berhasil memfasilitasi masyarakat Kepulauan Seribu khususnya para pembudidaya, di mana mampu memproduksi ikan kerapu hidup dari tahun 2006-2019 sebanyak 22,3 ton dengan nilai mencapai Rp 2,97 miliar.

CEO detiknetwork Abdul Aziz mengunjungi Sea Farming di Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, ditemani Kepala PKSPL IPB University Yonvitner dan Direktur Sea Farming Muhammad Qustam Sahibuddin pada Sabtu (26/11/2022).

Yonvitner menjelaskan Sea Farming merupakan konsep yang lahir dari PKSPL IPB University yang berawal dari implementasi di tahun 2006 hingga sekarang telah memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, lingkungan, kelembagaan dan dunia pendidikan.

"Sea Farming merupakan konsep lengkap terkait dengan pengelolaan perairan berbasis masyarakat. Di mana aktivitas marikultur (budidaya laut) merupakan jantung dari implementasi konsep sea farming, karena manfaat ekonomi dari kegiatan marikultur langsung diperoleh masyarakat. Konsep Sea Farming juga sejalan dengan konsep ekonomi biru, di mana keberlanjutan menjadi fokus dalam melakukan aktivitas memproduksi pangan dari laut," jelas Yonvitner.

Sea Farming yang diimplementasikan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu sejak 2006 telah memproduksi sebanyak 22,3 ton ikan kerapu dengan nilai mencapai Rp 2,97 miliar. (dok Istimewa)Sea Farming yang diimplementasikan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu sejak 2006 telah memproduksi sebanyak 22,3 ton ikan kerapu dengan nilai mencapai Rp 2,97 miliar. (dok Istimewa)

Sementara itu, Qustam mengatakan konsep sea farming telah mampu membuat masyarakat Keluarahan Pulau Panggang memproduksi ikan kerapu hidup dari tahun 2006-2019 sebanyak 22,3 ton dengan nilai mencapai Rp 2,97 miliar. Kegiatan tersebut berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat secara langsung melalui kegiatan budidaya laut.

"Tidak hanya ikan kerapu, udang vaname juga sudah mulai kita coba kajiannya dari tahun 2014. Dari segi tingkat kelangsungan hidup, budidaya udang vaname di laut masih kalah dibandingkan dengan di tambak, namun di sisi lain kualitas udang yang dihasilkan merupakan kualitas udang vaname premium yang bisa dijadikan menu sashimi. Terkait harga, udang vaname budidaya laut harganya 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan udang vaname tambak," jelas Qustam.

Abdul Aziz mengapresiasi konsep sea farming yang telah dikawal PKSPL IPB University dari tahun 2006 hingga sekarang. Dia mengaku bangga bisa mengunjungi Sea Farming di Pulau Panggang.

"Konsep ini harus selalu didukung dan diperkuat, apalagi saat ini di Sea Farming sedang memproduksi udang vaname di laut. Produksi udang vaname di laut patut diapresasi, karena ternyata memiliki kualitas daging yang lebih gurih dan harganya lebih mahal 2 kali lipat dibandingkan harga udang vaname tambak," kata Abdul Aziz.

Dia mengatakan setiap inovasi memiliki kendala dan hambatan, namun hal tersebut merupakan tantangan yang harus dicari jalan keluarnya. Menurutnya, IPTEK saat ini berkembang begitu pesat diberbagai sektor, termasuk di dalamnya IPTEK terkait marikultur.

"Saya yakin PKSPL IPB University sebagai pusat kajian ternama di Indonesia mampu memformulasikan IPTEK marikultur agar kinerja budidaya udang di laut menyamai kinerja budidaya udang di tambak. Disisi lain menjalin kerja sama yang berkelanjutan, baik dengan pihak swasta maupun pemerintah sangat diperlukan untuk memajukan IPTEK budidaya laut di Indonesia," ucap dia.

Simak juga 'Meraup Jutaan Rupiah dari Budidaya Anggrek':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/rfs)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT