ADVERTISEMENT

Mahfud: Mafia Hukum di Mana-mana, Kalau Ada yang Memperbaiki Disikat

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 25 Nov 2022 11:06 WIB
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud Md, mengatakan persoalan hukum di Indonesia itu berat. Sebab, menurut Mahfud, banyak mafia hukum di mana-mana.

"Masalah hukum itu berat, Saudara, berat. Mafianya di mana-mana," kata Mahfud saat gala dinner Munas KAHMI, Jumat (25/11/2022).

Mahfud mengungkapkan selalu ada upaya untuk menyingkirkan orang yang ingin memperbaiki hukum. Dia mencontohkan adanya jaksa dan polisi yang dipindahtugaskan setelah mengusut kasus korupsi.

"Kalau ada orang memperbaiki, disikat. Ada jaksa di suatu tempat nanganin korupsi di suatu daerah, sudah ngecek-ngecek, dipindah ke suatu tempat. Ini mulai lagi dari nol, masih mengejar koruptor, tarik lagi. Polisi juga banyak yang begitu dan itu berlapis di berbagai institusi," tuturnya.

Karena itu, Mahfud pun meminta anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selalu berpedoman pada hadis Nabi. Sebab, kata dia, negara akan hancur jika diperintah ugal-ugalan dengan cara melanggar hukum.

"Suatu negara itu akan hancur kalau diperintah dengan ugal-ugalan dengan cara melanggar hukum, cepat atau lambat. Sehingga, ketika Nabi diajak berkolusi oleh seseorang untuk meminta tolong, 'Nabi, anak saya jangan dihukum meskipun melakukan kesalahan. Karena saya ini malu. Berapa pun mau saya ganti, tapi jangan dihukum'. Tapi Nabi mengatakan 'begini, tahu ndak kamu, hancurnya negara-negara besar sebelum kita ini'," kata Mahfud.

"Dulu zaman Nabi itu kan ada Persia, Mesir, India, China, besar-besar. Hancurnya mereka itu semua karena, kalau ada orang salah dan orang itu punya kedudukan dan kekayaan, mereka dilepaskan. Tapi kalau ada orang kecil bersalah, langsung dihukum," sambungnya.

Lebih lanjut, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu juga mengutip apa yang disampaikan oleh Sayyidina Ali atau Ali bin Abu Thalib. Bahwa negara akan kuat jika dipimpin dengan adil dan tegaknya hukum.

"Akan kuat dan abadi suatu negara yang dipimpin dengan adil dengan tegaknya hukum meskipun mungkin pemimpinnya itu kafir. Saya tidak katakan kita pilih pemimpin kafir, tidak. Tapi ini mengatakan keadilan itu lebih penting dari status keagamaan. Itu Sayyidina Ali loh. Jangan marah ke saya, nanti marah pula ke saya," pungkas Mahfud.

(mae/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT