Gaji Tak Dibayarkan, Banyak Istri Karyawan PPD Minta Cerai
Senin, 24 Jul 2006 16:09 WIB
Jakarta - Sekitar 1.000 karyawan PPD menuntut pemerintah segera membayarkan 8 bulan gaji yang sampai saat ini belum dibayarkan. Akibat keterlambatan pembayaran gaji, banyak istri karyawan PPD memilih cerai atau pulang kampung.Demikian disampaikan oleh Sekretaris Pengurus Komisariat Federasi Transportasi dan Angkutan SBSI Perum PPD Robinson Hasibuan saat menggelar aksi di Pol B Perum PPD, Cililitan, Jakarta Timur, Senin (24/7/2006) Akibat keterlambatan gaji, para istri memiilih cerai atau pulang kampung, banyak pegawai PPD akhirnya tidur di pol bus.Dalam aksinya, para pegawai PPD juga mempermasalahkan terputusnya pelayananan Jamsostek selama setahun yang berakibat karyawan dan keluarganya apabila berobat ditolak oleh rumah sakit rujukan.Menurut Robinson, mismanajemen menyebabkan kendaraan tidak layak jalan. Padahal PPD berjalan di bidang pelayanan publik sehingga tidak mungkin merugi karena dibutuhkan masyarakat. Saat ini jumlah kendaraan yang beroperasi 350 unit, namun 50 persennya pulang cepat karena bermasalah.Mengenai jumlah karyawan yang belum dibayar gajinya, Ketua Aksi Pustaka Siahaan mengatakan, pihak manajemen tidak pernah transparan. Ada kalanya mereka menyebut angka 4.312 orang, tapi di kesempatan lain mereka menyebut angka 4.317.Selain melakukan orasi, para pegawai PPD itu juga membacakan kesaksian keluarga karyawan yang gajinya belum dibayar. Mereka ada yang mengeluh anaknya sampai putus sekolah, ada yang sampai utang kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ada yang sakit tetapi tidak mendapat klaim Jamsostek.Rencananya aksi ini akan dilanjutkan pada 26-27 Juli. Pada 26 Juli mereka akan menggelar aksi di Departemen Perhubungan. Sedangkan tanggal 27 Juli akan aksi ke kantor Kementerian Negara BUMN.Dalam aksinya di pol B Perum PPD Cililitan ini mereka juga menggelar spanduk dan poster. Salah satunya ada yang bergambar anak kecil bertanya kepada bapaknya. "Pak kapan saya bisa sekolah?", dan dijawab sanga bapak, "Sabar ya nak, bapak belum gajian."
(san/)











































