Go Digital, 'Urat Nadi' UMKM Bertahan Hadapi Badai

ADVERTISEMENT

Go Digital, 'Urat Nadi' UMKM Bertahan Hadapi Badai

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 20 Nov 2022 15:11 WIB
Workshop Pahlawan Digital (Dok. Kementerian Koperasi dan UKM)
Workshop Pahlawan Digital (Dok. Kementerian Koperasi dan UKM)
Jakarta -

Masuk ke ekosistem digital atau go digital menjadi langkah esensial yang perlu dilakukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bisa bertahan di masa-masa sulit bak diterjang badai. Hal ini tergambar dari survei yang dilakukan Grab Indonesia.

Dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, survei ini disampaikan dalam workshop yang diikuti 20 besar finalis Pahlawan Digital UMKM 2022. Head of Marketing GrabFood dan GrabMart Indonesia Hadi Koe mengatakan mayoritas pelaku UMKM menyatakan bahwa go digital merupakan suatu hal yang harus dilakukan pelaku usaha.

"Pada saat situasi COVID-19 sangat bergejolak, satu-satunya yang menjadi urat nadi, servis yang menjadi esensial, adalah layanan delivery," kata Hadi dalam workshop daring pada Jumat (18/11/2022).

"Berdasarkan survei yang kami jalankan kepada pelaku UMKM mitra GrabFood GrabMart, 9 dari 10 menyatakan bahwa adopsi ke dalam platform digital adalah sesuatu yang sifatnya esensial atau harus mereka adopsi, utamanya untuk bertahan melewati masa-masa kalau misal tiba-tiba ada PSBB lagi, terus tidak bisa transaksi offline," sambungnya.

Hadi menuturkan survei yang sama menunjukkan bahwa penjualan para pelaku UMKM meningkat sampai 15 persen setelah berjualan secara online. Oleh karena itu, go digital merupakan suatu hal yang menjanjikan bagi pelaku UMKM.

Terlebih, mayoritas konsumen menyatakan bahwa layanan pesan antar atau jasa pengiriman tak akan pernah mati. Penggunaan layanan pesan antar/pengiriman dari tahun ke tahun juga terus meningkat.

"Tujuh dari 10 konsumen menyatakan bahwa jasa pengiriman merupakan bagian yang sudah pasti sifatnya permanen atau mereka akan terus menerus menggunakan, walaupun saat ini kita melewati masa akhir pandemi," tutur Hadi.

Berjualan secara online juga menjadi peluang bagi pelaku UMKM mendapatkan konsumen baru. Sebab, banyak konsumen berbelanja online di kios/toko yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

"Sebelum pandemi, mayoritas konsumen biasa berbelanja berbelanja di toko/restoran yang sudah mereka ketahui. Tapi 2019 sampai saat ini justru banyak konsumen mengatakan mengenal toko/restoran baru dari aplikasi pengiriman," ucap Hadi.

"90 persen dari konsumen setidaknya pernah mencoba toko baru yang belum pernah mereka kunjungi offline," imbuh dia.

Aplikasi pengiriman atau layanan pesan antar seperti Grab juga bisa menjadi 'etalase' bagi pelaku UMKM untuk mempromosikan produk yang dijual. Berdasarkan survei Grab, banyak konsumen yang berselancar belasan menit di aplikasi sebelum memesan produk.

"Total waktu yang dihabiskan konsumen sejak masuk GrabFood sampai pemesanan adalah 17 menit. Banyak konsumen yang boleh dibilang semacam window shopping kalau di offline. Aplikasi pengiriman menjadi salah satu sarana discoverability untuk merchant baru yang belum pernah diketahui konsumen," ujar Hadi.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT