TV Bukan Segala-galanya Untuk Anak

TV Bukan Segala-galanya Untuk Anak

- detikNews
Minggu, 23 Jul 2006 09:39 WIB
Jakarta - Salah besar jika orangtua melempar tanggung jawab pendidikan kepada televisi, sehingga akan merasa lega jika anal-anak duduk manis seharian di depan TV. TV bukan segala-galanya untuk anak."TV bukan satu-satunya media untuk mendapatkan informasi," cetus Ketua Komnas Perlindungan (KPA) Seto Mulyadi saat dihubungi detikcom, Minggu (23/7/2006).Pria yang akrab disapa Kak Seto ini pun lantas mengapresiasi gagasan "Sehari Tanpa TV" yang disuarakan beberapa LSM dalam rangka Hari Anak Nasional 2006."Dengan kegiatan itu, maka orangtua bisa makin mendekatkan diri pada anak. Orangtua bisa mendongeng, mengajarkan agama, berkomunikasi secara langsung, dan bermain bersama anak," imbuh pria berkacamata ini.Apalagi menirit dia, saat ini banyak bermunculan acara TV yang ada muatan kekerasan, pornografi, dan mistik.Gerakan sehari tanpa TV ini bisa menjadi momentum untuk mengambangkan kegiatan menonton TV secara sehat. "Seperti buku, setelah anak selesai nemonton televisi, Doraemon misalnya, lalu ditutup, dimatikan. Tidak lantas dinyalakan terus menerus. Dan beralih ke kegiatan lain," jelas Kak Seto.Ditambahkan dia, Hari Anak Nasional 2006 ini, KPA kembali menenkankan agar kekerasan pada anak dihentikan sekarang dan selamanya. Sebab kekeraan pada anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara masih kerap dijumpai.Dicontohkan Kak Seto kekerasan pada anak di keluarga adalah tindakan menjewer dan membentak. Disekolah, kekerasan bisa dalam wujud memberikan PR yang terlalu banyak, kurikulum yang padat, dan membiarkan anak terbungkuk-bungkuk membawa buku yang berat."Di masyarakat misalnya tindakan yang tidak manusiawi pada anak jalanan. Sedangkan kekerasan di tingkat negara misalnya pembiaran penyakit, busung lapar, dan tidak adanya rumah tahanan bagi anak," paparnya.Ditambahkan Kak Seto, angka kekerasan pada anak di Indonesia masih cukup tinggi. Namun menurutnya perhatian masyarakat dan media massa atas masalah ini cukup tinggi. Hal itu bisa dilihat dari semakin banyak masyarakat yang melapor kasus kekerasan anak, dan semakin seringnya media massa mengupas kasus tersebut.Kongres Anak Nasional VI tengah berlangsung di Depok, Jawa Barat. Sebanyak 350 anak bergabung dalam acara itu merumuskan sejumlah rumusan keputusan yang akan disampaikan kepda presiden dan DPR."Ini wujud pemenuhan partisipasi anak. Jadi suara anak harus didengar karena murni dari anak-anak," tandas Kak Seto. (nvt/)



Berita Terkait