Efektivitas Informasi Gempa Tergantung Kemasan
Minggu, 23 Jul 2006 09:35 WIB
Jakarta - Gempa yang kerap terjadi berbuntut diwajibkannya media massa menyiarkan informasi dari BMG dengan cepat. Namun efektivitas pemberian informasi ini sangat tergantung pada kemasannya.Demikian disampaikan Pakar Komunikasi Universitas Airlangga Henry Subiakto, dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (22/7/2006)."Harus dikemas sedemikian rupa jangan sampai membuat panik, dan harus sampai ke publik secara proporsional. Frekuensi juga kan milik publik. Namun area lokal atau nasional juga harus dipertimbangkan," cetus Henry.Dijelaskan dia, jika info bencana diberikan secara nasional, maka pemerintah harus berani bertaruh bahwa informasi itu benar-benar valid. "Persoalannnya, pemerintah kita kan ragu-ragu. Jadi pemerintah harus siap menanggung social cost yang sekiranya timbul," imbuh Henry.Menurut pria yang juga Ketua Masyarakat Komunikasi Indonesia ini, bila informasi bersifat lokal maka cukup dilakukan melalui radio.Bagaimana dengan SMS? "Ya memang, SMS lebih cepat sampai dan menyebar luas. Akan tetapi kenapa kita tidak pernah mengefejktifkan sistem warning yang telah lama dikenal di tingkat pedesaan seperti kentongan. Sebaiknya sistem ini dibangun terlebih dahulu," tutur Henry.Substansi persoalannnya, lanjut Henry, adalah how to respon of crisis. Yakni bagaimana pemerintah menanggapi krisis itu secara cepat dan tepat. Menurutnya persoalannya sekarang terletak pada mentalitas pejabat. "Mental yang terbangun masih reaktif, akan bereaksi hanya setelah terjadi kejadian atau bencana. Setelah ini, paling lupa lagi," tambahnya.Untuk itu yang tidak boleh terlupakan adalah pembangunan mentalitas terlebih dahulu baru penguatan komitmen. "Saya lihat justru pemerintah hanya mencari cepatnya saja. Supaya dapat seringdilihat (di media). Ini kan perlu diwaspadai, ada agenda apa sebenarnya," tandas Henry.
(nvt/)











































