Pengacara Lukas Enembe Pertanyakan Panggilan, KPK Beri Penjelasan

ADVERTISEMENT

Pengacara Lukas Enembe Pertanyakan Panggilan, KPK Beri Penjelasan

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 18 Nov 2022 11:21 WIB
Stefanus Roy Rening
Foto Stefanus Roy Rening: (dok detikcom)
Jakarta -

KPK memanggil salah satu tim pengacara Lukas Enembe, Aloysius Renwarin. KPK mengatakan pemanggilan Aloysius berkaitan dengan kasus yang sedang disidik KPK.

Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri mengatakan pada Kamis (17/11) kemarin pihaknya memanggil dua orang terkait dugaan suap dan gratifikasi proyek infrastruktur Papua dengan tersangka Lukas Enembe. Dua orang itu adalah pengacara Lukas, Aloysius Renwarin dan Darwis yang berprofesi sebagai sopir.

"Informasi yang kami terima, tidak hadir. Penjadwalan pemanggilan ulang segera di kirimkan tim penyidik," kata Ali kepada wartawan, Jumat (17/11/2022).

Ali mengatakan keduanya dipanggil karena KPK membutuhkan keterangan keduanya. Ali memastikan Aloysius dipanggil bukan sebagai pengacara Lukas.

"Kami panggil dalam kapasitas sebagai warga negara untuk menjadi saksi, karena ada kebutuhan penyidikan agar lebih jelas perbuatan para tersangka. Tentu bukan soal tugas pokok fungsi dia sebagai penasihat hukum LE (Lukas Enembe). Kami ingatkan yang bersangkutan kooperatif hadir sebagai ketaatan terhadap hukum, silahkan hadir dan terangkan langsung dihadapan penyidik," jelas Ali.

Pengacara Lukas Minta Penjelasan

Di sisi lain, tim hukum dan advokasi Gubernur Papua (THAGP) melayangkan surat klarifikasi ke KPK usai pemanggilan dua anggota tim hukum Lukas yakni Stefanus Roy Rening dan Aloysius Renwarin. THAGP meminta penjelasan KPK mengapa dua pengacara Lukas dipanggil.

"Tapi sebelum diperiksa, kami minta klarifikasi pada KPK terlebih dahulu terkait dengan pemanggilan kami berdua, sebagai saksi dalam kasus yang menjadikan klien kami (Gubernur Papua Lukas Enembe) sebagai tersangka," kata Roy dalam keterangannya.

Roy juga menyebut dalam kasus dugaan gratifikasi tersebut, pihaknya dijamin dan dilindungi secara hukum, berdasarkan ketentuan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Menurutnya, dia sebagai pengacara hanya menjalankan profesinya.

"Dimana disebutkan dalam pasal tersebut, bahwa 'Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk kepentingan pembelaan klien dalam sidang pengadilan'," kata Roy.

Roy menuturkan pemanggilan dirinya sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana gratifikasi, yang diduga terjadi pada sekitar tanggal 11 Mei 2020 atau dua tahun enam bulan lalu, di Jayapura-Papua. Roy menegaskan saat kejadian dirinya berada di tempat lain.

(zap/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT