Habitat Harimau di Dunia Surut 40%
Sabtu, 22 Jul 2006 05:57 WIB
Jakarta - Penelitian ilmiah paling komprehensif mengenai habitat harimau, mengungkapkan bahwa saat ini harimau di dunia menempati habitat yang telah menyusut 40 persen dibandingkan 10 tahun lalu. Saat ini harimau hanya menempati sekitar 7 persen dari wilayah jelajah historisnya (historic range). Hal itu merupakan hasil, penelitian ilmiah antara World Wildlife Fund (WWF),Wildlife Conservation Society (WCS), the Smithsonian's National Zoological Park dan Save The Tiger Fund (STF). NGO internasional ini menyerukan aksi internasional untuk menjaga populasi harimau yang tersisa di dunia. Penelitian ini menunjukkan bahwa upaya konservasi, seperti perlindungan harimau dari perburuan, penyelamatan spesies mangsa dan habitat alaminya telah berdampak pada stabilnya, bahkan meningkatnya beberapa populasi harimau di berbagai tempat di dunia. Namun, laporan tersebut menyimpulkan bahwa keberhasilan pelestarian harimaudalam jangka panjang hanya dapat dicapai dengan adanya visi konservasi tingkatlansekap yang luas, dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan."Kita harus terus berupaya untuk menyelamatkan harimau. Namun demikian, pelestarian harimau memerlukan komitmen, kerjasama dan peran aktif seluruh pihak, termasuk masyarakat, mitra lokal, pemerintah, dan lembaga dana internasional. Pelestarian harimau harus dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan aksi konservasi yang berkesinambungan dan efektif, untuk mempertahankan populasi yang tersisa dan mengembalikan keberadaan spesies dilindungi ini ke wilayah jelajah alaminya," kata Hariyo T. Wibisono, Tiger Program Advisor, Wildlife Conservation Society - Indonesia Program dalam siaran pers yang diterima detikcom, Jumat (20/7/2006).Menurut Hariyo, di kawasan-kawasan konservasi yang ukurannya relatif kecil danterisolasi, populasi karnivora besar seperti harimau sangat rentan terhadapkepunahan.Separuh dari 76 lanscape masih dapat mendukung 100 harimau atau lebih, sehingga memberikan peluang besar untuk memulihkan populasi harimau liar. Lansecape terbesar bagi populasi harimau saat ini terdapat di Rusia Timur Jauh dan India. "Asia Tenggara juga memiliki peluang untuk mempertahankan populasi harimaunya, meski banyak kawasan telah kehilangan satwa tersebut dalam 10 tahun terakhir," terangnya.Sedangkan Adi Susmianto, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan, Departemen Kehutanan Indonesia, mengatakan bahwa untuk menyelamatkan populasi harimau yang tersisa saat ini, perlu ditingkatkanperlindungan terhadap 20 landscape prioritas pelestarian harimau, di mana dua di antaranya terdapat di Sumatera. WWF, WCS, STF dan Smithsonian's National Zoological Park telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung 13 negara pemilik habitat dan populasi harimau sebagai upaya untuk menyelamatkan spesies langka tersebut."Pemerintah Indonesia sangat peduli dengan konservasi harimau Sumatera di Indonesia. Namun demikian, upaya pelestarian harimau Sumatera dan habitatnya masih menghadapi berbagai kendala serius, walaupun berbagai upaya telah dilakukan," kata Adi Susmianto.Oleh karena itu, lanjutnya, dukungan dan kerja sama dari berbagai pihak sangatdiperlukan untuk menciptakan sinergi bagi upaya koservasi harimau Sumatera secara efektif."Upaya konservasi harimau Sumatera harus menyentuh berbagai aspek penting, seperti perlindungan habitat, mitigasi konflik harimau - manusia, penghentian perburuan dan perdagangan illegal, pelibatan dan pemberdayaan masyarakat, serta reintroduksi harimau hasil penangkaran ex-situ ke habitat alaminya," tambahnya.
(ahm/)











































