Rosidin Selamat, Gara-gara Tersangkut Atap

Tsunami Laut Selatan

Rosidin Selamat, Gara-gara Tersangkut Atap

- detikNews
Jumat, 21 Jul 2006 20:03 WIB
Kebumen - Nasib mujur dialami oleh Rosid (43) seorang nelayan warga Desa Widarapayung Wetan Kecamatan Binangun, Cilacap. Saat gelombang tsunami menerjang kawasan Pantai Widarapayung, dia selamat akibat tersangkut atap sebuah warung.Kaki, punggung dan tangan Rosid mengalami luka-luka dan sempat dirawat di puskesmas setempat. Dia juga tidak ikut terseret ombak balik setelah menerjang kawasan pantai. Sedangkan korban yang tewas dan luka parah kebanyakan terhempas dan terseret di bawa arus kembali ke laut."Saya sempat terhempas ke atas setelah ada air laut setinggi 2 meter masuk menerjang pantai," kata Rosidin kepada detikcom di Balai Desa Widarapayung Wetan, Jumat (21/7/2006).Namun ketika hendak lari bersama warga, dirinya tidak bisa karena air sudah setinggi pinggang orang dewasa. Tubuhnya terangkat ke atas setelah gelombang besar ke dua disertai dorongan yang saat kuat ke arah daratan. Air bercampur lumpur dan pasir itu terus menerjang pantai hingga sejauh 200-an meter."Setelah terseret arus, saya kemudian tersangkut sebuah atap warung yang roboh. Waktu itu semuanya gelap karena mata penuh lumpur," kata Rosidin. Dia berhasil selamat karena salah satu kaki kirinya tersangkut bambu atap sebuah warung. Dia langsung berpegangan dengan sekuat tenaga pada bambu tersebut agar mampu menahan derasnya air. Namun beberapa bagian tubuhnya termasuk punggung mengalami luka-luka akibat kejatuhan kayu-kayu yang hanyut. "Kalau tidak kesangkut kayu, saya mungkin tidak selamat seperti yang lain" tutur Rosidin.Menurut dia, sebelum kejadian dirinya baru saja menemui salah seorang rekannya sesama nelayan di parkiran perahu yang berada beberapa meter dari bibir pantai. Di tempat perahu ditambatkan itu, dia ngobrol dengan salah seorang nelayan selama hampir satu jam. Sebelum kejadian, suasana pantai masih cukup ramai, banyak nelayan dan warga yang ada di pinggir pantai.Namun tidak lama kemudian air tampak menyurut, beberapa orang nelayan yang mengetahui kejadian langsung berteriak-teriak. Mereka meminta agar warga dan wisatawan yang ada di pinggir pantai untuk menjauh. Saat ada yang berteriak, dirinya belum sadar betul bila akan ada air pasang yang tinggi. Namun setelah ada ombak tinggi bergulung-gulung dirinya hendak berlari ke arah warung. Saat berlari ke arah warung, tempat itu dipenuhi wisatawan yang baru saja bermain di pantai. Namun belum sampai ke warung, air laut setinggi 3 meter lebih dahulu bergulung-gulung dari samping kanan sehingga warga panik. Air langsung menyapu semua yang ada dipinggir pantai. Hampir semua warung roboh dan perahu yang ada di pinggir pantai juga terseret ke daratan hingga 100-an meter. Beberapa buah perahu ada yang pecah dan jaring-jaring yang ada di lambung kapal juga tumpah semuanya. Menurut dia, banyak orang terutama yang berada di pinggir laut yang tidak bisa menyelamatkan diri. Meski mereka berteriak minta tolong, tidak ada yang berani menolong karena semua berlari menjauh ke arah bukit dan jalanan yang lebih tinggi. Namun air yang datang lebih cepat dan deras. Mereka terjatuh setelah terhempas ombak setelah itu terbawa arus ke arah pantai."Perahu saja terpental jauh, apalagi orang yang ada di pinggir. Banyak orang hanyut di dekat saya, tapi saya tidak bisa menolong karena luka," cerita Rosidin.Setelah air surut dan kembali normal, banyak warga yang berdatangan untuk menolong. Dirinya ditolong oleh salah seorang tetangganya setelah mengangkat bambu dan kayu yang menindih tubuhnya. Dia luka memar di bagian punggung. Sedang di bagian kaki dan lengan mengalami luka lecet-lecet. "Untung kesangkut atap, kalau tidak akan seperti wisatawan yang ikut hanyut ke laut," papar Rosidin. (ahm/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads